Selasa, 04 Desember 2012

Contoh PTK Model Pembelajaran Word Square


PENERAPAN MODEL BELAJAR WORD SQUARE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI
SMA N 3 PURWOKERTO PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI



           



Oleh :

HENDY INDRA SETIAWAN
(0901010088)





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi setiap saat mengalami kemajuan. Hal ini harus diikuti dengan perkembangan kualitas sumberdaya manusia didalamnya. Perkembangan kualitas sumber daya manusia tidak dapat lepas dari perkembangan dan kualitas sebuah pendidikan. Pendidikan adalah hal yang sangat mendasar dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, untuk menciptakan sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan produktif diperlukan system pendidikan yang berkualitas. Sehingga perlunya perbaikan-perbaikan dalam system pendidikan di Indonesia yang sesuai dengan perkembangan dan perubahan zaman. Salah satu hal yang harus diperbaiki adalah proses belajar mengajar dikelas.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan paling utama dalam pendidikan di sekolah. Dalam proses ini akan terciptanya tujuan pendidikan secara umum maupun tujuan khusus seperti perubahan tingkah laku siswa menuju ke arah yang lebih baik. Sehingga siswa memiliki kemampuan dan dapat menghadapi perubahan dan tuntutan zaman, dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan pokok.
Proses belajar mengajar disekolah akan mencapai tujuan belajar ditunjang oleh berbagai faktor. Salah satunya yaitu strategi pembelajaran yang tepat untuk pokok bahasan materi ajar geografi, berarti guru menempati kedudukan sebagai figur central serta ditangan para guru terletak kemungkinan berhasil atautidaknya pencapaian tujuan belajar.
Guru yang menguasai materi yang akan diajarkan dan mampu mengelola strategi belajar yang tepat, memilih medi pengajaran dan mengevaluasi hasil belajar itu ialah petugas professional, petugas yang khusus dilatih untuk itu sehingga tanpa latihan serupa itu ia tidak akan bisa melaksankan tugasnya dengan baik. Jadi, paling tidak guru itu harus mampu memilih strategi belajar mengajar yang sesuai dengan misi pendidikan  ( Eka Wijana, 2011 halaman 2 )   
Sebagian guru di sekolah sudah ada yang dapat mengatasi masalah ini dengan menumbuhkan kreativitas siswa dalam menulis puisi melalui model pembelajaran atau model pembelajaran yang inovatif dan disenangi oleh siswa, tetapi sebagian guru lain masih menggunakan sistem pembelajran konvesional dalam mengajarkan materi menulis puisi. Bagi sbagian guru yang masih menggunakan cara konvensional dalam mengajarkan materi menulis puisi, lebih bijak jika mempertimbangkan bahwa perkembangan dan kebutuhan siswa dari tahun ke tahun tidaklah sama. Dibutuhkan perubahan ke arah hasil pembelajaran yang lebih baik guna mencapai tujuan pembelajarn dalam kurikulum. Melalui model pembelajarn yang digunakan diharapkan akan terciptanya suasana belajar yang lebih menyenangkan, lebih komunikatif, lebih apresiatif, sehingga dapat menumbuhkan minat serta kreatifitas siswa dalam bidang sastra terutama menulis puisi.
Plato mengatakan bahwa : Tujuan pendidikan sesunggguhnya adalah penyadaran terhadap selfknowing dan selfrealzation kemudian inquiry dan reasioning and logic. Maksudnya yaitu tujuan pendidikan memberikan penyadaran terhadap yang diketahuinya, kemudian penegtahuan tersebut harus direalisasikan sendiri dan selanjutnya mengadakan penelitian serta mengetahui hubungan kasual, yaitu alasan dan alur pikirnya.
Hal ini sejalan dengan Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia yang berasal dari berbagai akar budaya bangsa Indonesia terdapat dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, yaitu UU No.20 Tahun 2003. Dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tersebut dikatakan Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dengan realita yang ada maka penulis mencoba menerapkan dalam kegiatan belajar mengajar menggunakan model pembelajaran Word Square dalam ilmu geografi sehingga diharapakan model pembelajaran Word Square mampu mengembangkan semua potensi yang dimiliki masing-masing siswa dalam berpikir maupun ketrampilan dan tentunya memotivasi siswa untuk memahami konsep geografi.

B.     Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan keterbatasan penulis, penelitian ini akan meneliti hanya 2 faktor yaitu :
a.       Pembelajaran geografi dengan model belajar Word Square yang berbentuk dengan kumpulan huruf-huruf dalam kotak kemudian mengarsirnya sesuai pertanyaan yang diajukan.
b.      Hasil belajar siswa kelas XI SMA N 3 Purwokerto setelah diterapkan strategi pembelajaran geografi dengan model belajar Word Square melalui tes.

C.    Rumusan Masalah

Dari beberapa uraian diatas,timbul beberapa permasalahan sebagai berikut :
1)      Bagaimanakah respon siswa kelas XI SMA N 3 Purwokerto terhadap penerapan model pembelajaran Word Square dalam pembelajaran Geografi ?
2)      Apakah ada peningkatan hasil belajar siswa kelas XI SMA N 3 Purwokerto pada mata pelajaran Geografi dengan menggunakan metode Word square ?

D.    Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan :
1.      Untuk mengkaji respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran Word Square dalam pembelajaran Geografi.
2.      Untuk mengkaji terdapat atau tidaknya peningkatan hasil belajar geografi siswa dengan menggunakan metode Word Square.




E.     Manfaat

Beberapa Manfaat yang diperoleh yaitu :
1.      Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut:
a.       Sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran geografi melalui penerapan word square.
b.      Sebagai pijakan untuk mengembangkan penelitian-penelitian yang menggunakan  pendekatan word square.
2.      Manfaat Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut:
a.       Bagi penulis, dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pembelajaran geografi melalui model belajar  word square  .
b.      Bagi siswa terutama sebagai subyek penelitian, diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai adanya kebebasan dalam belajar matematika dengan sambil bermain , kreatif dan menyenangkan melalui kegiatan penyelidikan sesuai perkembangan berfikirnya.
Bagi siswa:
1.      Meningkatkan hasil belajar siswa
2.      Meningkatkan prestasi belajar siswa
3.      Meningkatkan keaktifan belajar siswa
Bagi guru:
1.      memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya
2.      bisa berkembang secara professional
3.      memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya
Bagi sekolah:
1.      meningkatkan mutu pendidikan di sekolah
2.      membantu memotivasi para guru di sekolah untuk inovatif dan kreatif dalam pelaksanaan pembelajaran
3.      pelaksanaan pembelajaran secara tuntas

Bagi pendidikan secara umum :
1.      meningkatkan mutu pendidikan
2.      meningkatkan kualitas pendidikan sebagai pelaksana pembelajaran;
3.      meningkatkan sumberdaya manusia yang kreatif dan inovatif.




























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A.    Kajian Pustaka

1.      Pengertian Hasil Belajar

Perubahan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu merupakan hasil belajar, yang terpenting sebenarnya dalam belajar adalah proses belajarnya karena didalam proses itulah murid bisa belajar banyak hal. Dibawah ini ada beberapa pengertian hasil belajar menurut pada ahli.
Hasil belajar menurut Anni (2004:4) merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar.
Hasil belajar menurut Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajaranya
Sudjana (sanjaya: 2011) mengemukakan bahwa “ pengertian Hasil belajar adalah adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya”. Menurut Soedijarto (Abidin: 2012) bahwa “  Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh murid dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dalam diri siswa itu sendiri dan faktor dari luar siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari dalam diri siswa terutama kemampuan kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan lain-lain ( Abidin: 2012)
Dari uraian diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pengertian Hasil belajar adalah perubahan kemampuan Kognitif, afektif dan psikomororik murid setelah mengikuti kegiatan belajar sesuai dengan tujuan pendidikan
Bundu dan Kasim (2006: 17)  mengemukakan bahwa “Hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan”. Lebih lanjut lagi, Bundu dan Kasim (2006: 16) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah:
(1) tahapan perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif; (2) tingkat penguasaan yang dicapai oleh murid dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan; (3) perubahan tingkah laku yang diamati sesudah mengikuti kegiatan belajar dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan.Pengetahuan menunjuk pada informasi yang tersimpan dalam pikiran, sedangkan keterampilan menunjuk pada aksi atau reaksi yang dilakukan seseorang dalam mencapai suatu tujuan; (4) memungkinkan dapat di ukur dengan angka-angka, tetapi mungkin juga hanya dapat diamati melaui perubahan tingkah laku. Oleh sebab itu, hasil belajar perlu dirumuskan dengan jelas sehingga dapat di evaluasi apakah tujuan yang diharapkan sudah tercapai atau belum
      Jadi hasil bermakna pada keberhasilan seseorang dalam belajar atau dalam bekerja atau aktivitas lainnya. Munandar mengatakan bahwa, ”hasil itu merupakan perwujudan dari bakat dan Profesionalisme. Hasil yang menonjol pada salah satu bidang mencerminkan bakat yang unggul dalam bidang tersebut .
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Belajar Siswa
Hasil sebagai bentuk gambaran keberhasilan individu setelah meyalurkan bakat, minat dan motivasinya dalam kegiatan belajar, jadi pretasi belajar tidak terlepas dari faktor internal maupun eksternal. Secara spesifik faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:
a. Faktor Psikologis
Belajar yang merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku peserta didik, ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya. Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar siswa adalah faktor-faktor psikologis.
      Menurut Sardiman (1990: 30) bahwa, “Faktor-faktor psikologis yang dikatakan memiliki peranan penting dalam aktivitas belajar, karena dipandang sebagai cara-cara berfungsinya pikiran siswa dalam hubungan dengan pemahaman bahan pelajaran, sehingga penguasaan terhadap bahan pelajaran yang disajikan lebih mudah efektif” .
Dengan demikian suatu aktivitas belajar akan berjalan baik jika didukung oleh faktor-faktor psikologis anak didik (siswa). Secara spesifik faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar adalah sebagai berikut:

1)      Motivasi
Seseorang itu akan berhasil dalam belajar atau melakukan aktivitas belajar dengan baik kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Menurut Sardiman bahwa motivasi yang berkaitan dengan aktivitas belajar yaitu: (1) mengetahui apa yang akan dipelajari, dan (2) memahami mengapa hal tersebut harus dipelajari”.
2)      Konsentrasi
Konsentrasi dimaksudkan memutuskan segenap kekuatan perhatian pada suatu situasi belajar. Unsur motivasi dalam hal ini sangat membantu tumbuhnya proses pemutusan perhatian. Di dalam konsentrasi ini keterlibatan mental secara detail sangat diperlukan.
Di dalam aktivitas belajar, jika dibarengi dengan konsentrasi maka aktivitas yang dilakukan akan memenuhi sasaran untuk mencapai tujuan belajar itu sendiri.
3)      Reaksi
Di dalam kegiatan belajar diperlukan keterlibatan unsur fisik maupun mental, sebagai wujud reaksi. Dengan adanya diri siswa, maka proses belajar mengajar akan menjadi hidup, karena siswa tidak hanya sebagai obyek tetapi subyek dalam belajar.
Faktor Eksternal
Hasil belajar menurut Anni (2004:4) merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar.Sedangkan menurut Sudjana (1990:22) hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah sebuah perubahan perilaku dan ketrampilan peserta didik setelah peserta didik memperoleh pengalaman dari aktivitas belajar dan proses pembelajaran di sekolah maupun luar sekolah.
Gagne mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar, yakni : informasi verbal, kecakapan intelektul, strategi kognitif, sikap dan keterampilan. Sementara Bloom mengungkapkan tiga tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai dan merupakan hasil belajar yaitu : kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudjana, 1990:22).
Menurut Slameto (2003:54-72), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah
1.      Faktor-faktor Internal
-   Jasmaniah (kesehatan, cacat tubuh)
-   Psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan)
-   Kelelahan
2.      Faktor-faktor Eksternal
-   Keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan)
-   Sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah)
-   Masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat)
Sedangkan menurut Sardiman (2007:39-47), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah
1.      Faktor ekstern (dari luar) siswa.
Faktor dari luar diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar dia antaranya adalah lingkungan fisik dan non fisik (termasuk suasana kelas dalam belajar, seperti riang gembira, menyenangkan), lingkungan social budaya, lingkungan keluarga, program sekolah, guru, pelaksanaan pembelajaran, dan teman sekolah.
Guru merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap proses maupun hasil belajar, sebab guru merupakan manajer atau sutradara dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut agar mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, aktif dan menantang.
2.      Faktor intern (dari dalam) diri siswa
Faktor dari dalam diri siswa yang berpengaruh terhadap hasil belajar diantaranya motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar, dan konsep diri (Djaali.2008:101).
a)      Motivasi;
Menurut Purwanto (1997:60) motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Sedangkan Suryabrata (1984:70) mengemukakan bahwa motivasi adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan.
b)      Sikap;
Sikap dapat didefinisikan dengan berbagai cara dan setiap definisi berbeda satu sama lain. Djaali (2008:114) menyampaikan pendapat dari beberapa ahli tentang definisi sikap, diantaranya Trow mendefinisikan sikap sebagai suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat.
c)      Minat;
Minat adalah salah satu aktivitas manusia yang berhubungan dengan aspek psikis dan fisik, yang disadari dengan segera direalisir pada aktivitas nyata dengan sengaja disertai dengan perasaan senang dan seseorang merasa lebih berharga dengan aktivitas tersebut.
d)     Kebiasaan belajar;
Kebiasaan merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis. Perbuatan kebiasaan tidak memerlukan konsentrasi perhatian dan pikiran dalam melakukannya (Djaali. 2008:128).
e)      Konsep Diri;
Konsep diri adalah pandangan seseorang tentang dirinya sendiri yang menyangkut apa yang ia ketahui dan rasakan tentang perilakunya isi pikiran dan perasaanya, serta bagaimana perilakunya tersebut berpengaruh pada orang lain (Anant Pai dalam Djaali (2008:129)

2.                  Model belajar Word Square
a.       Pengertian Model Belajar Word Square
Menurut Laurence Urdang (1968) Word Square is a set of words such that when arranged one beneath another in the form of a square the read a like horizontally,  artinya  word  square  adalah  sejumlah  kata  yang  disusun  satu  di bawah yang lain dalam bentuk bujur sangkar dan dibaca secara mendatar dan menurun.  Word  Square  menurut  Hornby  (1994)  adalah  sejumlah  kata  yang disusun sehingga kata-kata tersebut dapat dibaca ke depan dan ke belakang.
LKS Word square adalah salah satu alat bantu/media pembelajaran berupa kotak-kotak kata yang berisi kumpulan huruf. Pada kumpulan huruf tersebut terkandung konsep-konsep yang harus ditemukan oleh siswa sesuai dengan pertanyaan yang berorientasi pada tujuan pembelajaran (Anonim,1991).Metode observasi yang divariasikan dengan LKS Word square berarti suatu cara mengajarkan materi pelajaran dengan mengajak siswa mengamati secara teliti suatu objek yang dipadukan dengan LKS Word square.
 “Word Square” terdiri dari 2 kata Word dan Square. Word berarti kata sedangkan Square adalah lapangan persegi. Jadi Word Square adalah lapangan kata. Word Square adalah yaitu salah satu model-model pembelajaran melalui sebuah permainan “belajar sambil bermain” yang ditekankan adalah belajarnya.
Belajar dan bermain memiliki persamaan yang sama yaitu terjadi perubahan yang dapat mengubah tingkah laku, sikap dan pengalaman, sebaliknya keduanya terdapat perbedaan pada tujuannya, kegiatan belajar mempunyai tujuan yang terletak pada masa depan. Sedangkan kegiatan bermain tujuan kesenangan dan kepuasannya diwaktu kegiatan permainan itu berlangsung.
Dalam model pembelajaran ini, para siswa dipandang sebagai objek dan subyek pendidikan yang mempunyai potensi untuk berkembang sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki, jadi dalam hal ini guru sebagai fasilitator belajar.
Model pembelajaran Word Square merupakan pengembangan dari metode ceramah yang diperkaya. Hal ini dapat diidentifikasi melalui pengelompokkan metode ceramah yang diperkaya yang berorientasi kepada keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagaimana disebutkan oleh Mujiman (2007).
Model Pembelajaran Word Square merupakan model pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak jawaban. Mirip seperti mengisi  Teka-Teki Silang tetapi bedanya jawabannya sudah ada namun disamarkan dengan menambahkan kotak tambahan dengan sembarang huruf/angka penyamar atau pengecoh. Model pembelajaran ini sesuai untuk semua mata pelajaran.Tinggal bagaimana Guru dapat memprogram sejumlah pertanyaan terpilih yang dapat merangsang siswa untuk berpikir efektif. Tujuan huruf/angka pengecoh bukan untuk mempersulit siswa namun untuk melatih sikap teliti dan kritis.
Word Square merupakan salah satu dari sekian banyak metode pembelajaran yang dapat dipergunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Metode ini merupakan kegiatan belajar mengajar dengan cara guru membagikan lembar kegiatan atau lembar kerja sebagai alat untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan. 
Instrument utama metode ini adalah lembar kegiatan atau kerja berupa pertanyaan atau kalimat yang perlu dicari jawabannya pada susunan huruf acak pada kolom yang telah disediakan. (Mujiman, 2007)

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Word Square
Langkah-langkah Model Pembelajaran Word Square adalah sebagai berikut :
1.      Guru menyampaikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai.
2.      Guru membagikan lembaran kegiatan sesuai contoh.
3.      Siswa menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban secara vertikal, horizontal maupun diagonal.
4.      Berikan poin setiap jawaban dalam kotak.

Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran Word Square
Beberapa kelebihan dari model pembelajaran Word Square yaitu:
1.      Kegiatan tersebut mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. 
2.      Melatih untuk berdisiplin.
3.      Dapat melatih sikap teliti dan kritis.
4.      Merangsang siswa untuk berpikir efektif.
Model pembelajaran ini mampu sebagai pendorong dan penguat siswa terhadap materi yang disampaikan. Melatih ketelitian dan ketepatan dalam menjawab dan mencari jawaban dalam lembar kerja. Dan tentu saja yang ditekankan disini adalah dalam berpikir efektif, jawaban mana yang paling tepat.
Sedangkan beberapa kekurangan dari model pembelajaran word square yaitu:
1.      Mematikan kreatifitas siswa. 
2.      Siswa tinggal menerima bahan mentah.
3.      Siswa tidak dapat mengembangkan materi yang ada dengan kemampuan atau potensi yang dimilikinya.
Dalam model pembelajaran ini siswa tidak dapat mengembangkan kreativitas masing-masing, dan lebih banyak berpusat pada guru. Karena siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru, dan jawaban dari lembar kerja pun tidak bersifat analisis, sehingga siswa tidak dapat menggali lebih dalam materi yang ada dengan model pembelajaran word square ini.
Dari penjelasan tentang model pembelajaran word square maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran word square adalah suatu pengembangan dari metode ceramah namun untuk mengetahui pemahaman siswa tentang materi yang telah disampaikan maka diberikan lembar kerja yang didalamnya berisi soal dan jawaban yang terdapat dalam kotak kata. Membutuhkan suatu kejelian dan ketelitian dalam mencari pilihan jawaban yang ada dengan tepat. Namun sebagaimanan model pembelajaran yang lainnya, model pembelajaran word square mempunyai kekurangan dan kelebihan.
Kekurangan dari model pembelajaran ini yaitu siswa hanya menerima bahan mentah dari guru dan tidak dapat mengembangkan kreativitasnya, karena siswa hanya dituntut untuk mencari jawaban bukan untuk mengembangkan pikiran siswa masing-masing. Sedangkan kelebihannya yaitu meningkatkan ketelitian, kritis dan berfikir efektif siswa. Karena siswa dituntut untuk mencari jawaban yang paling tepat dan harus jeli dalam mencari jawaban yangada dalam lembar kerja.
B.     Kerangka Berpikir

Dalam kegiatan pembelajaran, pengajaran dan pengaturan proses belajar mengajar menentukan keberhasilan pembelajaran. Keduanya saling mendukung satu sama lain. Untuk mencapai tujuan pembelajaran geografi diperlukan kesetimbangan antara keduanya.
Salah satu komponen pengajaran adalah pemanfaatan berbagai strategi pembelajaran secara dinamis dan kemampuan guru untuk dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi pokok bahasan geografi.
Word Square adalah sejenis teka teki silang yang tidak asing lagi bagi semua orang. biasa dilakukan pada waktu senggang atau hanya sekedar mengisi waktu luang caranya sangat mudah hanya dengan menjawab pertanyaan lalu diterapkan di kotak-kotak yang sudah disediakan. Word Square lebih mudah lagi karena sudah tersedia kotak beserta   huruf-hurufnya, tugas kita hanya mengarsir huruf-huruf tersebut menjadi suatu kalimat atau kata sesuai jawaban yang dipertanyakan dan hal tersebut menyenangkan selain mengisi waktu luang juga mengasah otak.
Untuk  menghilangkan anggapan siswa  bahwa geografi itu membosankan, maka hal-hal yang biasa menjadi kegemaran atau kesukaan siswa diterapkan pula dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah yang biasa kita sebut belajar sambil bermain. Siswa tidak akan merasa jenuh atau kesulitan dalam memecahkan dan mengerjakan soal-soal geografi. Word Square adalah salah satu alternatif tersebut.      
Model belajar Word Square merupakan kegiatan belajar mengajar dimana siswa dihadapkan pada suatu keadaan atau masalah untuk kemudian dicari jawaban dalam sebuah kotak angka-angka kemudian mengarsirnya. Keunggulan Word Square adalah metode pembelajaran yang bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan bagi para siswa.
Prosedur penelitian tindakan kelas ini merupakan siklus dan dilaksanakan sesuai perencanaan tindakan / perbaikan dari perencanaan tindakan terdahulu. Penelitian ini diperlukan evaluasi awal untuk mengetahui penyebab rendahnya hasil belajar  siswa dan tes  sebagai upaya untuk menemukan fakta-fakta yang dapat digunakan untuk melengkapi kajian teori yang ada dan untuk menyusun perencanaan tindakan yang tepat dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.
C.    Hipotesis Tindakan
Menurut Ronny Kountur ( 2005 : 93 ) bahwa hipotesis dapat diartikan sebagai dugaan sementara atau jawaban sementara atas permasalahan penelitian dimana memerlukan data untuk menguji kebenaran dugaan tersebut.
Hipotesis tindakannya adalah :
1.      Model belajar word square yang digunakan pada mata pelajaran geografi di respon baik oleh siswa.
2.      Penggunaan penerapan model belajar word square dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran geografi. 























BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Subjek, Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), yang pelaksanaannya dilaksanakan dalam beberapa tahap. Tahap-tahap pelaksanaan meliputi perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection) yang dirangkai dalam satu siklus kegiatan.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI. Lokasi penelitian adalah SMA N 3 Purwokerto.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada bulan Juli 2012 sampai Juli 2013, dengan rincian sebagai berikut : (a) Siklus I terdiri dari 2 kali tatap muka, (b) Siklus II terdiri dari 2 kali tatap muka. Rencana pelaksanaan kegiatan tatap muka mengikuti atau menyesuaikan waktu pembelajaran mata pelajaran yaitu pada hari Selasa dan Kamis.

B.     Prosedur Penelitian
Sebelum melakukan penelitian tindakan kelas terlebih dahulu dilakukan observasi ke sekolah SMA N 3 Purwokerto sebagai tempat penelitian, menelaah kurikulum (silabus) sesuai dengan mata pelajaran, Menyiapkan materi sebagai pokok bahasan yang akan dibahas, kemudian membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).

Siklus I
a.       Tahap Perencanaan
Sebelum pelaksanaan penelitian tindakan kelas maka terlebih dahulu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Menganalisis materi pelajaran geografi SMA N 1 Purwokerto.
2.      Menyiapkan rencana pembelajaran.
3.      Mempersiapkan alat-alat bantu pengajaran dalam rangka optimalisasi proses belajar mengajar dengan menggunakan metode Word Square.
4.      Menyiapkan materi untuk dipresentasikan, yang mencakup pokok-pokok materi. Disamping Word Square, penyampaian materi pelajaran juga dikombinasikan dengan beberapa metode lainnya seperti demonstrasi, ceramah dan tanya jawab.
5.      Membuat pedoman observasi untuk memberikan penilaian terhadap proses belajar mengajar dikelas yaitu observasi minat, motivasi dan sikap antusias.
b.      Tahap Pelaksanaan Tindakan
Adapun pelaksanaan tindakan pada siklus I ini berlangsung selama 2 (dua) kali pertemuan yaitu sebagai berikut :

Pertemuan I :
1.      Pendahuluan
-   Kegiatan Apersepsi
-   Guru menyiapkan perangkat pembelajaran
-   Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2.      Kegiatan inti
-   Guru menjelaskan mengenai pengertian materi yang dibahas secara umum
-   Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
-   Guru memberikan pertanyaan tentang materi yang baru saja disampaikan
-   Siswa dipersilahkan bertanya bila ada yang kurang jelas
-   Word Square adalah suatu model pembelajaran dengan menggunakan lembar kerja (semacam teka teki silang) dimana siswa mencari susunan huruf dan dibentuk menjadi sebuah kalimat, sekaligus merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
-   Guru menunjukan kepada peserta didik kotak-kotak yang berisi huruf secara acak, dimana setiap baris / kolom / diagonal membentuk sebuah kata yang menyangkut jawaban yang akan diberikan oleh guru. Peserta didik diharapkan mampu menjawab pertanyaan dari guru dengan menunjukkan dimana baris/kolom/diagonal yang merupakan jawaban. Setiap peserta didik yang mampu menjawab pertanyaan dari guru akan mendapatkan poin. Begitupun seterusnya.
-   Peserta didik harus dapat menjawab pertanyaan dari guru dengan menunjuk baris yang merupakan jawaban
3.      Penutup
-   Guru merangkum materi pelajaran
-   Guru memberikan motivasi dan stimulus
-   Evaluasi

Pertemuan II :
1.      Pendahuluan
-   Kegiatan apersepsi
-   Guru menyiapkan perangkat pembelajaran
-   Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2.      Kegiatan inti
-   Guru mereview materi pelajaran yang lalu
-   Siswa dipersilahkan bertanya bila ada yang kurang jelas.
-   Guru mengevaluasi kemampuan siswa dengan metode Word Square, dengan membuat dua soal A dan B selama 1 jam. Word Square adalah suatu model pembelajaran dengan menggunakan lembar kerja (semacam teka teki silang) dimana siswa mencari susunan huruf dan dibentuk menjadi sebuah kalimat, sekaligus merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
3.      Penutup
-   Guru merangkum materi pelajaran
-   Guru memberikan motivasi dan stimulus
-   Evaluasi

c.       Tahap Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan proses observasi dan pencatatan selama kegiatan proses belajar mengajar berlangsung. Pencatatan dilakukan oleh guru dan dibantu oleh rekan observator dalam mengisi lembar observasi.
d.      Analisis dan Refleksi
`     Hasil analisis kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini akan dipergunakan sebagai acuan untuk melaksanakan siklus II jika masih terdapat kekurangan. Adapun perbaikan-perbaikan yang dilakukan pada siklus II merupakan hasil refleksi pada siklus I.
Siklus II
a.       Tahap Perencanaan
Sebelum mengadakan penelitian tindakan kelas, maka terlebih dahulu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Menyiapkan rencana pembelajaran.
-   Mempersiapkan alat-alat bantu pengajaran dalam rangka optimalisasi proses belajar mengajar dengan menggunakan metode Word Square. Word Square adalah suatu model pembelajaran dengan menggunakan lembar kerja (semacam teka teki silang) dimana siswa mencari susunan huruf dan dibentuk menjadi sebuah kalimat, sekaligus merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
2.      Menyiapkan materi yang akan dipresentasikan yang mencakup pokok-pokok materi.
3.      Merencanakan tindakan tambahan yang akan diberikan pada siklus II sebagai perubahan atau perbaikan tindakan pada siklus I.
4.      Membuat pedoman observasi untuk memberikan penilaian terhadap proses belajar mengajar di kelas yaitu observasi minat dan motivasi.
b.      Tahap Pelaksanaan Tindakan
Adapun pelaksanaan tindakan pada siklus II ini berlangsung selama 2 (dua) kali pertemuan yaitu sebagai berikut :
Pertemuan I :
1.      Pendahuluan
-   Kegiatan apersepsi
-   Guru menyiapkan perangkat pembelajaran
-   Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
2.      Kegiatan inti
-   Guru menjelaskan materi yang akan disampaikan
-   Siswa dipersilahkan bertanya bila ada yang kurang jelas.
-   Guru mengevaluasi kemampuan siswa dengan metode Word Square, dengan membuat dua soal A dan B, selama 1 jam. Word Square adalah suatu model pembelajaran dengan menggunakan lembar kerja (semacam teka teki silang) dimana siswa mencari susunan huruf dan dibentuk menjadi sebuah kalimat, sekaligus merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
3.      Penutup
-   Guru merangkum materi pelajaran
-   Guru memberikan motivasi dan stimulus
-   Evaluasi

Pertemuan II
1.      Pendahuluan
-   Kegiatan apersepsi
-   Guru menyiapkan perangkat pembelajaran
-   Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2.      Kegiatan inti
-   Guru mereview materi pelajaran yang lalu
-   Siswa dipersilahkan bertanya bila ada yang kurang jelas.
-   Guru mengevaluasi kemampuan siswa dengan metode Word Square, dengan membuat dua soal A dan B selama 1 jam. Word Square adalah suatu model pembelajaran dengan menggunakan lembar kerja (semacam teka teki silang) dimana siswa mencari susunan huruf dan dibentuk menjadi sebuah kalimat, sekaligus merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
3.      Penutup
-   Guru merangkum materi pelajaran
-   Guru memberikan motivasi dan stimulus
-   Evaluasi

c.       Tahap Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan proses observasi dan pencatatan selama kegiatan belajar dan mengajar berlangsung, pencatatan dilakukan oleh guru dan rekan observator dalam mengisi lembar observasi. Pada akhir siklus ini siswa diberikan tanggapan secara tertulis mengenai pelaksanaan pembelajaran.
d.      Analisis dan Refleksi
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a.       Data yang terkumpul pada tahap observasi.
b.      Membuat rangkuman hasil penelitian berdasarkan tanggapan dari siswa dan guru sebagai rekomendasi kepada pihak-pihak yang terkait.
Adapun kegiatan pada siklus III yaitu perbaikan dari siklus II namun peneliti tidak menyoroti hal itu.

C.    Teknik Pengumpulan Data
1.      Sumber data : Sumber data penelitian ini adalah siswa dan guru SMA N 3 Purwokerto.
2.      Jenis data : Jenis data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif, yang terdiri dari hasil belajar serta hasil observasi dalam proses belajar mengajar.
3.      Cara pengambilan data :
a)      Data mengenai peningkatan minat belajar siswa yang diperoleh melalui pemberian lembar angket pra pelaksanaan tindakan dan pasca pelaksanaan tindakan, baik siklus I maupun siklus II telah dilakukan, dengan butir pertanyaan yang sama.

D.    Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan dengan menggunakan deskriptif diisi dengan analisis data tentang observasi dan tanggapan siswa, sedangkan pada statistik kuantitatif deskriptif diisi dengan menganalisis hasil belajar siswa pada mata pelajaran.
Analisis data secara kualitatif akan mendeskripsikan hasil observasi pada proses pembelajaran. Analisis data secara kuantitatif akan mendeskripsikan minat belajar.









DAFTAR PUSTAKA

Farida, Devi Suryaning. 2009. Penggunaan media word square dalam pembelajaran             bahasa arab sebagai upaya peningkatan kemampuan kosakata siswa kelas XI SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan-Jember. Tersedia :

Haryadin, 2012. Pengertian Hasil Belajar. Tersedia :
http://hayardin-blog.blogspot.com/2012/03/artikel-pendidikan-pengertian-hasil_25.html#ixzz20QEdZ5L7  diunduh pada 10 Juli 2012

Nurdiyanti, Gesa. pengaruh model pembelajaran Word Square terhadap kemampuan menulis puisi siswa kelas VII SMP Negeri 47 Jakarta Pusat dan Mind map. Tersedia:
 
Wijana, Eka, 2011. Penerapan Model Belajar Word Square untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika.
      Tersedia :




1 comments:

  1. ada buku tidak yang menjelaskan ttg model wprd square ini?

    BalasHapus

 

Blogroll

Blogroll2