Minggu, 13 Mei 2012

Makalah Penilaian Hasil Belajar


TUGAS EVALUASI PEMBELAJARAN









Oleh :
HENDY INDRA SETIAWAN                     ( 0901010088 )





PROGRAM STUDI GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2012



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh ...

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan tugas mata kuliah Evaluasi Pendidikan. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pendidikan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca, mahasiswa dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
           
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh ...


Purwokerto, April 2012


Penyusun








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.            ………………………………………………………………            1
KATA PENGANTAR……………………………………………………………...                        2
DAFTAR ISI………………………………………………………………………..            3
BAB I             PENDAHULUAN………………………………………………………….                        4
A.        Latar Belakang Masalah…………………………………………………….            4
B.        Rumusan Masalah…………………………………………………………...            5
C.        Tujuan Penulisan Makalah………………………………………………….             5
D.        Manfaat Makalah……………………………………………………………            5
BAB II            PEMBAHASAN……………………………………………………             6
A.        PENILAIAN HASIL BELAJAR…………………………………………..              6
B.        TES PILIHAN GANDA……………………………………………………            11
C.        TES ISIAN SINGKAT……………………………………………………..             20
D.        TES URAIAN………………………………………………………………           24
E.         PENILAIAN NON TES……………………………………………………          30
BAB III          PENUTUP……………………………………………………………         36
A.        Kesimpulan……………………………………………………………………       36
B.        Saran………………………………………………………………………….        37
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia,pendidikan memegang peranan penting. Keberhasilan proses pendidikansecara langsung akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber dayamanusia tersebut. Salah satu indicator kualitas pendidikan yang baikadalah lulusannya yang berkompeten atau kompetensi lulusan.Kompetensi merupakan fungsi dari banyak variabel antara lainkemampuan peserta didik, kemampuan pendidik, fasilitas, manajemendan perkembangan pengetahuan ilmiah dan teknologi serta seni.Ruang lingkup pendidikan sangat luas, mulai dari masukkan (In put ),proses sampai hasilnya (Out put ). Untuk mengetahui bahwa proses yangkita lakukan itu sesuai dengan tujuannya maka harus dilakukan umpanbalik. Salah satu bentuk umpan balik yang dilakukan adalah Evaluasi.Sistem evaluasi yang dipergunakan memegang peranan pentingdalam laporan lembaga pendidikan karena lewat laporan itulah orang tuaakan mengetahui perkembangan anak-anak mereka setelah mengikutiproses pendidikan di lembaga tempat mereka menitipkan anaknya untukbelajar. Dalam memberikan laporan kemajuan belajar, pihak sekolah harusmelakukan pengukuran untuk menilai prestasi belajar siswa selama selangwaktu tertentu. Melalui laporan belajar juga para siswa dapat melihatsejauhmana kemampuan mereka setelah menempuh proses belajarmengajar selama selang waktu tertentu, Menurut Norman E. Gronlund (1976).
Di dalam Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang standar penilaian pendidikan dikatakan bahwa penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik (Permendiknas, 2007). Penilaian merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan untuk mengetahui perkembangan dan tingkat pencapaian hasil pembelajaran. Penilaian memerlukan data yang baik. Salah satu sumber data itu adalah hasil pengukuran. Pengukuran merupakan seperangkat langkah dalam rangka pemberian nilai terhadap hasil kegiatan pembelajaran. Kegiatan pengukuran atau penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik (Permendiknas, 2007).

B.     Rumusan Masalah
Dari beberapa uraian diatas, timbul beberapa permasalahan sebagai berikut :
1.      Apakah yang di maksud dengan Penilaian Hasil Belajar ( Tes dan Non Tes ) ?
2.      Mengapa diperlukan Penilaian Hasil Belajar bagi peserta didik ?
3.      Bagaimana Kelebihan dan Kelemahan Pada tiap – Tiap jenis Tes dalam Penilaian ?

C.     Tujuan Penulisan
Penulisan Makalah ini bertujuan :
1.      Memenuhi tugas mata Evaluasi Pengajaran Geografi.
2.      Mendefinisikan pengertian Penilaian Hasil Belajar Mengajar.
3.      Menjelaskan Jenis – jenis Penilaian dengan Tes tertulis.
4.      Menjelaskan Kelebihan dan Kelemahan pada tiap – tiap Jenis Penilaian.
5.      Menjelaskan tentang bagaimana melaksanakan Penilaian dengan Non Tes.
6.      Agar dapat menjadi ilmu yang kelak berguna untuk selanjutnya dapat di sampaikan kepada calon peserta didik nanti.
                       
D.    Manfaat
Beberapa Manfaat yang diperoleh yaitu :
1.      Mengetahui tentang bebagai macam cara penilaian sehingga  dapat digunakan penilaian pada berbagai aspek.
2.      Mengetahui pentingnya Penilaian untuk mengukur seberapa jauh kemampuan peserta didik.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Penilaian

Menurut Suharsimi Arikunto; menilai adalah mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan baik, penilaian yang bersifat kuantitatif.
Menurut Mahrens; penilaian adalah suatu pertimbangn professional atau proses yang memungkinkan seseorang untuk membuat suatu pertimbangan mengenai nilai sesuatu.

1)      Pengertian Evaluasi, Pengukuran, Tes dan Penilaian

Penilaian Hasil Belajar, Banyak orang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi, pengukuran (measurement), tes, dan penilaian (assessment), padahal keempatnya memiliki pengertian yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Stufflebeam (Abin Syamsuddin Makmun, 1996) memengemukakan bahwa : educational evaluation is the process of delineating, obtaining,and providing useful, information for judging decision alternatif . Dari pandangan Stufflebeam, kita dapat melihat bahwa esensi dari evaluasi yakni memberikan informasi bagi kepentingan pengambilan keputusan. Di bidang pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru.
Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.
Secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikukulum itu sendiri.

2)      Tujuan Penilaian

Penilaian memiliki tujuan yang sangat penting dalam pembelajaran, diantaranya untuk grading, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, diagnosis, dan prediksi.
Sebagai grading, penilaian ditujukan untuk menentukan atau membedakan kedudukan hasil kerja peserta didik dibandingkan dengan peserta didik lain. Penilaian ini akan menunjukkan kedudukan peserta didik dalam urutan dibandingkan dengan anak yang lain. Karena itu, fungsi penilaian untuk grading ini cenderung membandingkan anak dengan anak yang lain sehingga lebih mengacu kepada penilaian acuan norma (norm-referenced assessment).
Sebagai alat seleksi, penilaian ditujukan untuk memisahkan antara peserta didik yang masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak. Peserta didik yang boleh masuk sekolah tertentu atau yang tidak boleh. Dalam hal ini, fungsi penilaian untuk menentukan seseorang dapat masuk atau tidak di sekolah tertentu. Untuk menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai kompetensi.
Sebagai bimbingan, penilaian bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
Sebagai alat diagnosis, penilaian bertujuan menunjukkan kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan. Ini akan membantu guru menentukan apakah seseorang perlu remidiasi atau pengayaan.
Sebagai alat prediksi, penilaian bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat memprediksi bagaimana kinerja peserta didik pada jenjang pendidikan berikutnya atau dalam pekerjaan yang sesuai. Contoh dari penilaian ini adalah tes bakat skolastik atau tes potensi akademik.
Dari keenam tujuan penilaian tersebut, tujuan untuk melihat tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, dan diagnostik merupakan peranan utama dalam penilaian.
Sesuai dengan tujuan tersebut, penilaian menuntut guru agar secara langsung atau tak langsung mampu melaksanakan penilaian dalam keseluruhan proses pembelajaran. Untuk menilai sejauhmana siswa telah menguasai beragam kompetensi, tentu saja berbagai jenis penilaian perlu diberikan sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai, seperti unjuk kerja/kinerja (performance), penugasan (proyek), hasil karya (produk), kumpulan hasil kerja siswa (portofolio), dan penilaian tertulis (paper and pencil test). Jadi, tujuan penilaian adalah memberikan masukan informasi secara komprehensif tentang hasil belajar peserta didik, baik dilihat ketika saat kegiatan pembelajaran berlangsung maupun dilihat dari hasil akhirnya, dengan menggunakan berbagai cara penilaian sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dapat dicapai peserta didik.

3)      Pendekatan Penilaian

Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan penilaian hasil belajar, yaitu penilaian yang mengacu kepada norma (Penilaian Acuan Norma atau norm-referenced assessment) dan penilaian yang mengacu kepada kriteria (Penilaian Acuan Kriteria atau criterion referenced assessment). Perbedaan kedua pendekatan tersebut terletak pada acuan yang dipakai. Pada penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi hasil penilaian peserta didik dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh peserta didik yang dinilai dengan alat penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh peserta didik digunakan sebagai acuan. Sedangkan, penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan, interpretasi hasil penilaian bergantung pada apakah atau sejauh mana seorang peserta didik mencapai atau menguasai kriteria atau patokan yang telah ditentukan. Kriteria atau patokan itu dirumuskan dalam kompetensi atau hasil belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi.
Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan. Dalam hal ini prestasi peserta didik ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan suatu kompetensi. Meskipun demikian, kadang kadang dapat digunakan penilaian acuan norma, untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih peserta didik masuk rombongan belajar yang mana, untuk mengelompokkan peserta didik dalam kegiatan belajar, dan untuk menyeleksi peserta didik yang mewakili sekolah dalam lomba antar-sekolah.

4)      Ruang Lingkup Penilaian Hasil Belajar

Hasil belajar peserta didik dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu: (1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika – matematika), (2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan (3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal).
Sejauh mana masing-masing domain tersebut memberi sumbangan terhadap sukses seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan ? Data hasil penelitian multi kecerdasan menunjukkan bahwa kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika-matematika yang termasuk dalam domain kognitif memiliki kontribusi hanya sebesar 5 %. Kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi yang termasuk domain afektif memberikan kontribusi yang sangat besar yaitu 80 %. Sedangkan kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spatial dan kecerdasan musikal yang termasuk dalam domain psikomotor memberikan sumbangannya sebesar 5 %
Namun, dalam praxis pendidikan di Indonesia yang tercermin dalam proses belajar-mengajar dan penilaian, yang amat dominan ditekankan justru domain kognitif. Domain ini terutama direfleksikan dalam 4 kelompok mata pelajaran, yaitu bahasa, matematika, sains, dan ilmu-ilmu sosial. Domain psikomotor yang terutama direfleksikan dalam mata-mata pelajaran pendidikan jasmani, keterampilan, dan kesenian cenderung disepelekan. Demikian pula, hal ini terjadi pada domain afektif yang terutama direfleksikan dalam mata-mata pelajaran agama dan kewarganegaraan.
Agar penekanan dalam pengembangan ketiga domain ini disesuaikan dengan proporsi sumbangan masing-masing domain terhadap sukses dalam pekerjaan dan kehidupan, para guru perlu memahami pengertian dan tingkatan tiap domain serta bagaimana menerapkannya dalam proses belajar-mengajar dan penilaian.
Perubahan paradigma pendidikan dari behavioristik ke konstruktivistik tidak hanya menuntut adanya perubahan dalam proses pembelajaran, tetapi juga termasuk perubahan dalam melaksanakan penilaian pembelajaran siswa. Dalam paradigma lama, penilaian pembelajaran lebih ditekankan pada hasil (produk) dan cenderung hanya menilai kemampuan aspek kognitif, yang kadang-kadang direduksi sedemikian rupa melalui bentuk tes obyektif. Sementara, penilaian dalam aspek afektif dan psikomotorik kerapkali diabaikan.
Dalam pembelajaran berbasis konstruktivisme, penilaian pembelajaran tidak hanya ditujukan untuk mengukur tingkat kemampuan kognitif semata, tetapi mencakup seluruh aspek kepribadian siswa, seperti: perkembangan moral, perkembangan emosional, perkembangan sosial dan aspek-aspek kepribadian individu lainnya. Demikian pula, penilaian tidak hanya bertumpu pada penilaian produk, tetapi juga mempertimbangkan segi proses.
Kesemuanya itu menuntut adanya perubahan dalam pendekatan dan teknik penilaian pembelajaran siswa. Untuk itulah, Depdiknas (2006) meluncurkan rambu-rambu penilaian pembelajaran siswa, dengan apa yang disebut Penilaian Kelas.
Ditinjau dari sudut bahasa penilaian dapat diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek. Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria . Misalnya untuk dapat mengatakan baik, sedang , kurang, diperlukan adanya ketentuan atau ukuran yang jelas bagaimana yang baik , yang sedang , dan yang kurang. Ukuran itulah yang dinamakan kriteria. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa ciri penilaian adalah adanya objek atau program yang dinilai dan adanya kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara kenyataan atau apa adanya dengan kriteria atau apa harusnya, perbandingan bisa bersifat mutlak , bisa pula bersifat relatif.
Perbandingan bersifat mutlak artinya hasil perbandingan tersebut menggamnbarkan posisi objek yang dinilai ditinjau dari kritertia yang berlaku sedangkan perbandingan bersifat relatif artinya hasil berbandingan lebih menggambarkan posisi suatu objek yang dinilai terhadap objek lainnya dengan bersumber pada kriteria yang sama.dengan demikian inti penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu

2.      Penilaian Tes Tertulis ( Pilihan Ganda, Isian singkat, dan Uraian )

a)      TES PILIHAN GANDA

·         Bentuk Soal Pilihan Ganda

Tes pilihan ganda merupakan tes yang menggunakan pengertian/ pernyataan yang belum lengkap dan untuk melengkapinya maka kita harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban benar yang telah disiapkan.
Soal pilihan ganda dapat mengukur tingkat pengetahuan dan pemahaman dan juga bebas dari berbagai pembatasan bentuk soal objektif lainnya. Soal bentuk pilihan ganda umumnya dikenalkan sebagai tipe soal tes objektif yang paling luas untuk diterapkan dan digunakan. Soal ini lebih efektif untuk mengukur beberapa hasil belajar sederhana daripada mengukur dengan soal jawaban singkat, soal betul salah, dan latihan menjodohkan. Lagi pula, tes ini dapat mengukur berbagai hasil pengetahuan yang lebih kompleks, pemahaman, dan penerapan. Keflesibelan ini, ditambah soal berkualitas tinggi biasanya ditemukan pada bentuk soal pilihan ganda, menuntun penggunaan secara luas dalam tes pencapaian.
Soal pilihan ganda merupakan bentuk soal yang jawabannya dapat dipilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disedikan. Kontruksinya terdiri dari pokok soal dan pilihan jawaban. Pilihan jawaban terdiri atas kunci dan pengecoh. Kunci jawaban harus merupakan jawaban benar atau paling benar sedangkan pengecoh merupakan jawaban tidak benar, namun daya jebaknya harus berfungsi, artinya siswa memungkinkan memilihnya jika tidak menguasai materinya. Soal pilihan ganda dapat diskor dengan mudah, cepat, dan memiliki objektivitas yang tinggi, mengukur berbagai tingkatan kognitif, serta dapat mencakup ruang lingkup materi yang luas dalam suatu tes.
Secara umum, setiap soal pilihan ganda terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option). Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor). Dalam penyusunan soal tes tertulis, penulis soal harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan soal dilihat dari segi materi, konstruksi, maupun bahasa. Selain itu soal yang dibuat hendaknya menuntut penalaran yang tinggi.

·         Karakteristik Soal Pilihan Ganda

Soal pilihan ganda terdiri atas sebuah masalah dan daftar saran pemecahannya. Masalah yang dinyatakan sebagai pertanyaan langsung atau pernyataan tidak lengkap disebut stem soal. Daftar saran pemecahan termasuk kata-kata, nomor, simbol, atau frasa disebut alternative (juga disebut pilihan atau option). Siswa disarankan untuk membaca stem dan daftar pilihan dan memilih satu pilihan yang tepat atau yang terbaik. Pilihan yang tepat pada setiap soal disebut jawaban, dan pilihan tersisa disebut pengecoh (juga disebut pemikat atau gagal). Pilihan-pilihan yang tidak tepat fungsinya dalam soal untuk mengecoh siswa yang ragu-ragu mengenai jawaban yang tepat.
Menggunakan pertanyaan langsung atau pernyataan tidak lengkap dalam stem tergantung pada beberapa faktor. Bentuk pertanyaan langsung lebih mudah ditulis, lebih alami bagi siswa, dan lebih jelas disajikan dalam rumusan masalah. Di sisi lain, bentuk pernyataan tidak lengkap, lebih ringkas dan jika terampil masalah dapat disajikan dengan baik. Prosedur umumnya, tiap stem dimulai dengan pertanyaan langsung dan dialihkan pada bentuk pernyataan tidak lengkap hanya ketika kejelasan masalah dapat diingat dan diringkas.

Contoh bentuk pertanyaan langsung:
1. Manakah kota-kota berikut ini yang merupakan ibukota Indonesia?
A. Surabaya
B. Jakarta (√ )
C. Semarang
D. Jogjakarta
Contoh bentuk pernyataan tidak lengkap:
2. Ibukota Indonesia terletak di
A. Surabaya
B. Jakarta (√ )
C. Semarang
D. Jogjakarta
Contoh tipe jawaban terbaik:
3. Manakah faktor-faktor pendukung terbaik dipilihnya Jakarta sebagai ibukota Indonesia?
A. Pusat lokasi (√)
B. Iklim yang baik
C. Jalan raya yang baik
D. Populasi yang besar
* Soal pada nomor 1 dan 2 merupakan soal tipe jawaban tepat, sedangkan soal nomor 3 merupakan soal tipe jawaban terbaik. Bentuk soal nomor 3, jawaban terbaik, merupakan bentuk soal pilihan ganda yang lebih sulit dari kedua soal sebelumnya. Soal tipe jawaban terbaik menuntut pemahaman, aplikasi, atau interpretasi dari informasi faktual.
·         Jenis-jenis tes pilihan ganda antara lain :

a.       Melengkapi pilihan
o   Inti permasalahan harus ditempatkan pada pokok soal
o   Hindari pengulangan kata-kata yang sama
o   Hindari rumusan kata-kata yang berlebihan
o   Kalau pokok soal merupakan pernyataan yang belum lengkap, maka kata-kata yang melengkapi harus diletakkan pada ujung pernyataan bukan diawal ataupun ditengah-tengah kalimat.
o   Susunan alternatif jawaban dibuat teratur dan sedehana
o   Hindari penggunaan kata-kata teknis / ilmiah
o   Semua pilihan jawaban harus homogen dan dimungkinkan sebagai jawaban yang benar.
o   Hindari keadaan dimana jawaban yang benar selalu ditulis lebih panjang dari jawaban yang salah.
o   Hindari adanya petunjuk / indikator pada jawaban yang benar.
o   Gunakan 3 atau lebih alternatif pilihan

·         Kaidah Penulisan Soal Pilihan Ganda

Dalam menulis soal pilihan ganda harus memperhatikan kaidah – kaidah sebagai berikut:
ü  Materi
1.      Soal harus sesuai dengan indikator.
2.      Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
3.      Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
ü  Konstruksi
1.      Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
2.      Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
3.      Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar.
4.      Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
5.      Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
6.      Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, "Semua pilihan jawaban di atas salah", atau "Semua pilihan jawaban di atas benar".
7.      Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angkatersebut, atau kronologisnya.
8.      Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.
9.      Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
ü  Bahasa
1.      Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
2.      Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.
3.      Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif.
4.      Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.

Untuk Catatan :
v  Jumlah pilihan jawaban untuk soal SD dan SMP adalah empat pilihan
v  Jumlah pilihan jawaban untuk SMA dan sederajat yaitu lima

·         Kelebihan dan Kekurangan Soal Pilihan Ganda

a.       Kelebihan Soal Pilihan Ganda :
o   mudah dalam penskoran
o   cepat koreksinya
o   lebih obyektif
o   mudah dianalisa
o   dapat dikoreksi oleh siapa saja, asal ada kunci jawaban
o   dapat diterapkan di segala jenjang
o   mencakup banyak materi pembelajaran
o   waktu yang diperlukan lebih singkat
o   hanya ada satu kunci jawaban, homogen, logis
o   dikoreksi dengan mesin scan
o   dapat diaplikasikan dengan komputer baik penampilan soal dan perhitungan nilainya, interaktif
o   dapat menggunakan rumus singkat
o   semua indikator dapat terwakili
o   pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas dan tegas
o   materi yang ditanyakan jelas arahnya
o   soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya
o   mudah dibuat karena sejajar dengan setiap indikator yang hendak dinilai
o   banyak siswa yang dapat menyelesaikan lebih cepat
o   siswa lebih suka mengerjakan soal PG
o   dapat digunakan untuk membedakan antara siswa yang kemampuannya tinggi dan rendah secara terukur sesuai dengan skor
o   dapat mengukur kemampuan siswa sesuai dengan domain yang dikehendaki sesuai dengan tingkat kesukarannya
o   membantu siswa untuk memilih jawaban yang dianggap benar karena terdapat jawaban yang mempermudah siswa untuk menjawab soal (membantu mengingat materi)

b.      Kekurangan Soal Pilihan Ganda :
o   diperlukan waktu yang lama untuk menyusunnya
o   syarat dengan spekulasi untuk siswa
o   kurang memberikan peluang menjawab dengan benar pada siswa (hanya 20%) untuk 5 option jawaban
o   kurang menggambarkan sebuah proses
o   kesulitan untuk mencari pengecoh yang benar-benar homogeny
o   jawaban yang 1, 2, 3 benar itu mendustai siswa
o   hanya dapat mengukur pengetahuan / kognitif
o   siswa dapat bekerjasama dalam menjawab
o   kurang adil dalam penskoran
o   kurang komprehensif , hanya terbatas daroi soal yang diberikan oleh guru
o   tingkat kemampuan yang terukur sangat terbatas
o   jumlah soal harus banyak agar dapat mewakili semua materi yang telah dipelajari
o   sulit menentukan pilihan jawaban
o   tanpa analisa
o   panjang jawaban relatif sama
o   harus memperhatikan kaidah penulisan yang lebih banyak
o   membiasakan siswa berpikir untung-untungan
o   kurang dapat menggambarkan kemampuan siswa secara utuh
o   tidak dapat menjawab secara analisa atau kesimpulan
o   tingkat pemahaman teori hanya C1, C2, C3
o   membuat soalnya sulit, karena panjang pilihan jawaban relatif sama
o   soal hanya untuk satu jenis materi saja, tidak dikaitkan dengan materi yang lainnya
o   membutuhkan pengetahuan khusus dalam memilih option yang baik
o   membutuhkan pilihan yang tepat sebagai pengecoh yang baik sehingga tidak menimbulkan kebingungan siswa untuk menjawab
o   tidak dapat mendeteksi langkah siswa dalam mengerjakan soal
o   membutuhkan waktu lama untuk analisis butir soal
o   sulit membuat soal pengembangan (terutama soal analisis dan evaluasi)
o   membutuhkan kemampuan yang tinggi (penguasaan materi) oleh penulis soal
o   kedalaman materi tidak tergali
o   tidak bisa digunakan untuk mengukur kreativitas siswa
o   tingkat kesulitan soal biasanya sama / lebih sulit  tetapi bobot nilai lebih kecil
o   kurang memacu siswa untuk memberikan analisis soal dan memberikan jawaban
o   siswa cenderung memilih jawaban hanya dengan prinsip untungan-untungan (spekulasi jawaban)
·         Mengatasi Kelemahan Tes Objektif Pilihan Ganda

Salah satu bentuk dari tes objektif adalah pilihan ganda. Seperti juga bentuk tes yang lain, mempunyai sisi lebih dan kurang bahkan dituding penyebab rendahnya mutu pendidikan Indonesia. Memang untuk membuat butir soal yang berkualitas, menghindari siswa bekerja sama dan menghindari siswa menebak jawaban, mungkin sulit.
Karena itu untuk membuat butir soal yang presentatif dan berkualitas, sebaiknya mengikuti pedoman utama pembuatan butir soal bentuk pilihan ganda yaitu:
1.      Pokok soal harus jelas
2.      Pilihan jawaban homogen dalan arat isi
3.      Panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama
4.      Tidak ada petunjuk jawaban benar
5.      Hindari menggunakan pilihan jawaban : semua benar atau semua salah
6.      Pilihan jawaban angka diurutkan
7.      Semua pilihan jawaban logis
8.      Jangan menggunakan negatif ganda
9.      Kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes.
10.  Bahasa Indonesia yang baik dan baku.
11.  Letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak.(Pedoman Umum Pengembangan Sistem Penilaian , 2003)
12.  Tingkat berpikir yang diukur bisa lebih tinggi tergantung pada kemampuan pembuat soal.
13.  Terdapat butir soal yang merefleksikan ranah psikomotorik, misalnya mengenai langkah-langkah percobaan di laboratorium.
14.  Terdapat butir soal yang merefleksikan ranah afektif, misalnya mengenai pencemaran lingkungan.
Untuk menghindari siswa bekerja sama, perlu dilakukan :
1.      Pengawas ujian teliti dalam melakukan pengawasan selama ujian berlangsung.
2.      Memberikan soal yang berbeda tipe (urutan soal beda, isi sama) bagi peserta yang posisinya berdekatan.
Untuk menghindari jawaban menebak, adalah dengan pemberitahuan terlebih dahulu bahwa jawaban yang salah akan diberi skor negatif. Dengan cara ini peserta akan bersungguh-sungguh mencari jawaban benar.

Cara penskoran tes pilihasn ganda ada dua, yaitu:
1.      Penskoran tanpa koreksi terhadap jawaban tebakan
Skor = B/N x 100
B = banyak butir yang dijawab benar
N = banyaknya butir soal
Contoh : Banyak soal tes ada 40 butir.
Banyak jawaban yang benar ada 23
Jadi skor yang diperoleh peserta didik adalah
Skor = 23 /40 x 100
= 575
2.      Penskoran dengan koreksi terhadap jawaban tebakan
Skor = [ B- (S/P-1) : N ] x 100
B = banyaknya butir soal yang dijawab benar
S = banyaknya butir soal yang dijawab salah
P = banyaknya pilihan jawaban tiap butir
N= banyaknya butir soal
Butir soal yang tidak dijawab diberi skor nol
Contoh : Banyak soal tes 40 butir dengan 5 pilihan tiap butir
Banyaknya jawaban benar ada 20
Banyaknya jawaban salah ada 12
Tidak dijawab ada 8
Skor = [ 20- (12/5-1) : 40 ] x 100
                           = 425



b)     TES ISIAN SINGKAT

·         Karakteristik Tes Isian Singkat
Tes isian terdiri dari kalimat yang dihilangkan (diberi titik-titik). Bagian yang dihilangkan ini yang diisi oleh peserta tes merupakan pengertian yang diminta agar pernyataan yang dibuat menjadi pernyataan yang benar.
Bentuk tes isian singkat melibatkan sebuah pernyataan dengan satu atau lebih ruang kosong yang nantinya digunakan testee untuk mengisikan informasi yang menjadikan pernyataan menjadi lengkap dan benar. Bentuk soal isian singkat biasanya membutuhkan pemanggilan kembali informasi-informasi yang disimpan oleh testee. Kadangkala, soal isian singkat mengharuskan testee untuk melakukan penghitungan penghitungan, yang hasilnya diisikan pada tempat kosong (Collette & Chiapetta, 1994:465).
Untuk menulis item-item pertanyaan isian singkat, beberapa saran di bawah ini hendaknya diperhatikan (Azwar, 2007: 100–103); Collette & Chiapetta, 1994: 465;Stiggins, et. Al, 2006: 145–146):
a.       Buat seluruh tempat kosong dalam kalimat dengan panjang yang sama dan letakkan mereka pada akhir pernyataan.
b.      Hindari menggunakan lebih dari dua buah tempat kosong dalam satu pernyataan.Penggunaan lebih dari dua buah tempat kosong dalam satu pernyataan akanmenjadikan pernyataan semakin ambigu.
c.       Hindari menjiplak secara langsung dari buku karena perbedaan konteks menjadikann perbedaan makna.
d.      Kata yang mestinya diisikan dalam tempat kosong merupakan kata kunci. Hendaknya kata kunci terdiri dari satu atau dua kata. Hindari frase yang panjang untuk diisikan dalam isian.
e.       Buat tempat isian mampu menampung kata atau kata-kata yang akan diisikan.
f.       Pertanyaan atau pernyataan butir soal harus ditulis dengan hati-hati sehingga dapat dijawab dengan hanya satu jawaban yang pasti. Bukan sepeti ini: Sapi adalah .... Hendaknya seperti ini: Menurut makanannya, sapi termasuk hewan ....
g.      Sebaiknya rumuskan jawabannya lebih dahulu baru kemudian menulis pertanyaannyanya. Dengan menuliskan pertanyaan sambil memperhatikan jawaban yang kita kehendaki, maka dapat dijaga bahwa hanya akan ada satu jawaban yang layak diberikan.
h.      Usahakan agar dalam pertanyaan tidak terdapat petunjuk yang mungkin digunakan oleh subyek dalam menjawab soal.

·         Kelebihan dan Kekurangan Soal Isian

a). Kelebihan Soal Isian Singkat :
o   bentuk jawaban sederhana
o   hanya ada satu jawaban yang benar
o   pengkoreksian lebih mudah dan cepat, obyektif
o   penggunaan waktu singkat
o   pembuatan soal mudah sesuai indicator
o   siswa dapat langsung mengetahui kepastian dari istilah yang akan dijawab
o   siswa dapat / mudah dalam mempersiapkan diri menempuh ujian
o   jawaban spekulasi lebih kecil dibanding PG
o   lebih banyak konsep-konsep esensial yang bisa diujikan
o   guru lebih mudah untuk menyusun soal berstruktur
o   mempermudah guru untuk melihat secara langsung kondisi dan kemampuan siswa
o   soal tidak perlu dibuat banyak
o   pertanyaan singkat dan sederhana
o   jelas arah jawaban tergantung kata tanyanya (kapan, siapa, berapa)
o   mudah penilaian / penskoran
o   mudah membuat jawaban karena hanya menggunakan satu jawaban
o   jawaban mutlak (tidak ada alternatif lain), tidak melebar
o   pertanyaan langsung ke jawaban
o   pertanyaan dapat merupakan suatu pernyataan yang belum lengkap, langsung ke sasaran
o   memudahkan siswa menjawab
o   penskoran lebih mudah karena memiliki tingkat kesulitan yang sama
o   dapat mengetahui seberapa banyak informasi / materi yang telah diketahui / dikuasai siswa
o   karena bahasanya sudah baku, maka soal-soal dapat digunakan sebagai bank soal
o   tempat jawaban sudah tersedia
o   jika jawaban yang dikehendaki menuntut satuan urutan maka dapat diungkapkan secara rinci di dalam pertanyaan
o   mudah membuatnya karena tidak memerlukan stimulus
o   memudahkan dalam pengukuran kompetensi siswa

b). Kekurangan Soal Isian Singkat :
o   tidak mengetahui kemampuan siswa secara proses
o   kemampuan siswa untuk mengembangkan jawaban terbatas
o   kurang analisa jawaban
o   penggunaan bahasa harus benar dan tepat
o   pencakupan materi agak kurang
o   penskoran agak susah
o   pengetahuan yang diukur lebih banyak hafalan
o   tidak banyak mengimprovisasi jawaban sehingga tidak bisa mengetahui siswa yang berbakat / kreatif
o   setiap jawaban siswa tidak sama
o   kadang-kadang tujuan dari soal tidak sama diterima oleh siswa
o   bagi siswa yang tulisannya sulit dibaca akan berpengaruh terhadap penilaian
o   tidak membuat siswa berpikir kritis
o   bentuk pertanyaan kurang variasi / monoton
o   hanya dapat digunakan untuk materi tertentu
o   sulit menyusun / merangkai pernyataan yang jelas dan mudah dimengerti
o   dalam satu pokok bahasan memerlukan soal yang banyak
o   tingkat kebocoran jawaban tinggi
o   sulit mengukur siswa yang cerdas
o   tingkat kesukaran rendah
o   cenderung mengutip pernyataan yang ada dalam buku
o   siswa yang tidak menguasai materi tidak akan menjawab dengan benar (tidak mempunyai pilihan jawaban yang tersedia)
o   siswa yang tidak bisa menjawab mendapat nilai nol
o   bentuk jawaban lebih kompleks dan lebih terbuka
o   tingkat kesulitan  tidak dapat bervariasi (mudah, sedang, sulit)
o   guru harus mampu menyusun kalimat dengan benar sehingga tidak terjadi dualisme / lain makna
o   dituntut kreativitas dari pembuat soal dalam penyusunan karena kata-kata dalam soal diharapkan tidak sama dengan buku cetak
o   jawaban siswa bervariasi (padahal hanya ada satu jawaban benar)
o   tidak terdapat pengecoh jawaban
o   jawaban sangat tertutup sehingga bersifat text book
o   tidak cocok untuk menguji materi yang memerlukan analisis

Bentuk tes isian singkat dapat digunakan untuk menentukan apakah testee memahami aturan-aturan dasar atua rumus yang membutuhkan hitungan-hitungan sederhana. Isian singkat dapat digunakan untuk mengingat tanggal, nama, tempat, dan lain-lain yang berupa fakta. Isian singkat bisa digunakan untuk menguji materi yang banyak dalam waktu singkat. Selain itu, isian singkat mudah untuk diambil nilainya (Collette & Chiapetta, 1994: 465).

·         Contoh Soal Isian Singkat
1.      Ibu Kota dari Indonesia adalah……… ( Jakarta )
2.      Batuan Granit merupakan contoh batuan…….( Beku )

·         Penskoran Soal Isian Singkat
Tes bentuk jawab singkat adalah bentuk tes yang menghendaki jawaban berbentuk kata atau kalimat pendek. Melihat namanya, maka jawaban untuk tes tersebut tidak boleh berbentuk kalimat-kalimat panjang, tetapi harus sesingkat mungkin dan mengandung satu pengertian. Dengan persyaratan inilah maka bentuk tes ini dapat digolongkan ke dalam bentuk tes obyektif.Dengan katakter tes isian, maka usaha yang dikeluarkan testee sedikit, tetapi lebih sulit daripada tes bentuk betul-salah atau bentuk pilihan ganda. Sebaiknya tiap soal diberi angka 2 (dua). Dapat juga angka itu kita samakan dengan angka pada bentuk betul-salah atau pilihan ganda jika memang jawaban yang diharapkannya ringan atau mudah. Tetapi sebaliknya apabila jawabannya bervariasi misalnya lengkap sekali, lengkap dan kurang lengkap, maka angkanya dapat dibuat bervariasi pula mislanya 2; 1,5; atau 1. Adapun skoring untuk bentuk tes isian adalah: S = R (Arikunto, 2005: 228–229).

c)      TES URAIAN ( ESSAY )

·         Pengertian Tes Essay

Secara ontologis tes essay adalah salah satu bentuk tes tertulis, yang susunannya terdiri atas item-item pertanyaan yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berpikir siswa (Sukardi, 2008). Menurut Suherman (1993) tes essay adalah tes yang menuntut siswa untuk dapat menyusun dan memadukan gagasan-gagasan tentang hal-hal yang telah dipelajarinya, dengan cara mengekspresikan atau mengemukakan gagasan tersebut secara tertulis dengan kata-kata sendiri.
Tes essay juga dapat disebut sebagai tes dengan menggunakan pertanyaan terbuka, dimana dalam tes tersebut siswa diharuskan menjawab sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu, menurut Suherman, E (1993) tes essay juga sering disebut sebagai tes uraian karena untuk menjawab soal siswa dituntut untuk menyusun jawaban secara terurai. Jawaban tidak cukup hanya dengan satu atau dua kata saja, tetapi memerlukan uraian yang lengkap dan jelas. Selain harus menguasai materi tes, siswa dituntut untuk bisa mengungkapkannya dalam bahasa tulisan dengan baik.
Tes essay yang biasa dipakai di sekolah mempunyai arti yang luas, yaitu tidak hanya mengukur kemampuan siswa dalam menyajikan pendapat pribadi, melainkan juga menuntut kemampuan siswa dalam hal menyelesaikan hitungan, menganalisis masalah, dan mengekspresikan pendapat.

·         Kelebihan & Kekurangan Soal Uraian

a)      Kelebihan Soal Jawaban Uraian :
o   Mengukur kemampuan lebih mendalam, tiap kompetensi dasar, menggali kompetensi siswa seutuhnya
o   siswa lebih berkreasi dan bervariasi dalam memberikan jawaban
o   memberikan gambaran lebih jelas tentang penguasaan siswa terhadap materi tertentu
o   memberikan latihan kepada siswa dalam hal menyusun kalimat untuk mengungkapkan pendapatnya menggunakan pola berpikir yang lebih berkreatif  secara logis dan berstruktur (komunikasi tertulis)
o   penyusunan soal lebih ringkas
o   jumlah soal tidak banyak
o   dapat digunakan untuk lebih dari satu KD
o   pertanyaan bisa berkembang
o   dapat menunjukkan golongan / kelompok siswa dengan kemampuan tinggi, sedang, atau rendah
o   lebih ekonomis
o   siswa tidak bisa berspekulasi jawabannya
o   siswa dapat berpikir secara terstruktur
o   yang dapat mengerjakan adalah siswa yang belajar, mengajak siswa belajar lebih keras
o   tidak memberikan petunjuk jawaban
o   dapat menanyakan segala jenis aspek mulai dari aspek ingatan –> analisis / sintesis
o   dapat mengukur pemahaman siswa pada soal-soal yang membutuhkan pengerjaan secara procedural
o   memfasilitasi jawaban yang mempunyai berbagai cara pengerjaan

b)      Kekurangan Soal Jawaban Uraian :
o   mengukur materi dalam konteks yang terbatas, tidak dapat mengukur seluruh materi pelajaran
o   kesulitan dalam penskoran
o   memerlukan waktu yang lama dalam koreksi
o   siswa harus benar-benar memahami pokok bahasan karena dalam uraian tidak mengenal hafalan
o   guru kadang mengalami kesulitan membaca tulisan siswa
o   jawaban bisa beragam (lebih dari satu)
o   waktu jawaban biasanya lebih lama
o   sering muncul kata yang menimbulkan salah penafsiran
o   bahasa yang digunakan sering tidak baku
o   pedoman penskoran memerlukan standar khusus
o   soal harus tersusun secara benar dan komprehensif sehingga tidak terjadi penafsiran ganda
o   siswa bebas untuk mengutarakan jawaban dengan kata-katanya sendiri / dengan caranya sendiri
o   tingkat obyektifitas kecil karena sulit dibuat pedoman penskoran dengan tepat
o   cakupan materi kecil sehingga tidak mewakili seluruh isi materi yang diajarkan
o   bobot soal tidak sama
o   koreksi jawaban tidak obyektif dan sulit jika tidak pembuat soal
o   persepsi siswa bermacam-macam
o   tidak bisa semua indikator diujikan dalam 1 x ulangan
o   jawaban siswa kadang melebar dari apa yang ditanyakan

Untuk soal jenis ini skor dijabarkan dalam skala rentangan. Makin baik jawaban siswa, makin tinggi pula skor yang diperoleh. Sebaliknya, semakin kurang bemutu, makin rendah pula skor yang diberikan. Besarnya rentangan itu ditetapkan oleh guru, misalnya 1 – 5, 1 – 10, 0 – 4. Kualitas jawaban siswa biasanya diperhitungkan dari banyaknya kata kunci yang dijawab dengan benar, sistematika jawaban, dan pengertian logis dari jawaban itu.

·         Karakteristik Tes Uraian ( Essay )

1.      Pertanyaan esai
Menurut (Collette & Chiapetta, 1994: 466) pertanyaan esai biasanya meminta testee untuk memnformulasikan jawaban menggunakan kata-kata mereka sendiri. Secara umum tes ini dibedakan menjadi jenis terbatas dan jenis tidak terbatas. Tes uraian terbatas membatasi ruang lingkup jawaban, sedangkan tes uraian tak terbatas memberikan testee ruang lingkup seluas-luasnya untuk menjawab pertanyaan.
Dalam jenis tes uraian terbatas, testee diberikan garis besar yang mengarahkan jawaban mereka atau diminta untuk memberikan titik tekan pada jawaban mereka.
§  Contoh tes uraian terbatas
1)      Jelaskan, bandingkan, dan cari perbedaan antara fotosintesis dan respirasi ditinjau dari bahan, hasil, energi, tempat, dan waktu.
2)      Jelaskan manfaat dan contoh bahan makanan dari masing-masing 5 zat gizi.
3)      Jelaskan secara rinci cara membuat magnet dengan cara induksi, elektromagnet, dan digosok.
§  Contoh tes uraian tidak terbatas
Jelaskan pernyataan: ”Matahari adalah sumber energi bagi bumi.”
2.      Pertanyaan jawaban-panjang atau uraian panjang (long-response questions)
Pertanyaan jenis ini meminta testee untuk menuliskan kalimat, persamaan, rumus, atau paragraf singkat sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan bertopik.
Contoh:
Tulis definisi dari masing-masing istilah di bawah ini:
a.       Batuan beku
b.      Proses Sedimentasi
c.       Delta
3.      Saran
Beberapa saran untuk membuat pertanyaan esai antara lain (Collette & Chiapetta, 1994: 466–467; Shirran, 2008: 87–88):
a.       Gunakan pertanyaan model open-ended untuk mengukur tingkat kognitif taksonomi Bloom yang lebih tinggi, misalnya pemahaman, analsisi, dan sintetsis, yang tidak mampu diukur dengan mudah melalui jenis pertanyaan obyektif.
b.      Jika memungkinkan, gunakan jenis terbatas karena jenis pertanyaan ini mudah untuk dinilai dan memberikan saluran jawaban bagi testee.
c.       Tulis pertanyaan sehingga testee memiliki waktu yang cukup untuk menjawab pertanyaan.
d.      Saat menyusun butir-butir tes, tentukan kriteria penskoran. Semakin spesifik pertanyaan yang diajukan, penskoran semakin objektif.
e.       Bobot tiap soal harus diberitahukan pada testee agar mereka lebih mampu mengatur waktu dalam menjawab tiap soal. Hal ini jika tidak semu soal memiliki bobot yang sama. Jika suatu tes esai memungkinkan testee untuk memilih soalnya sendiri, guru harus menggunakan kriteria penilaian yang sama untuk semua soal.
f.       Dalam menilai jawaban panjang atau uraian tak terbatas, hendaknya guru menggunakan metode sortir. Dalam metode ini, guru tidak memeriksa kalimat perkalimat dari setiap gagasan utama, tetapi menilai kualitas esai secara keseluruhan.

Kemudian guru mensortir esai tersebut dan menempatkan jawaban terbaik pada satu kelompok, dan jawaban terburuk pada kelompok lain, dan jawaban intermediate di antara keduanya. Sebuah angka atau huruf lalu diberikan pada masing-masing kelompok. Angka atau huruf ini merepresentasikan kualitas masing-masing kelompok.

·         Contoh Penulisan Soal Uraian
1.      Deskripsikan apa yang dimaksud dengan penginderaan jauh.
2.      Uraikan manfaat-manfaat citra penginderaan jauh.

·         Cara dan Metode Menskor Soal – soal Uraian
o   Metode dalam menskor tes essay
menskor dengan menyiapkan model jawaban berdasarkan tahapan tingkat kebenaran suatu jawaban dengan memberikan skor tertentu.
Misalnya: ¼ benar diberikan skor 2,5; ½ benar diberikan skor 5; ¾ benar diberikan skor 7,5; dan benar semuanya diberikan skor 10 untuk setiap item.
o   Metode sortir: yakni menskor dengan terlebih dahulu melakukan sortir terhadap keseluruhan pekerjaan testi. Penyortiran dilakukan dengan mengklasifikasikan jawaban yang ada. Misalnya jawaban benar (baik), cukup, sedang, kurang, dan kurang sekali. Tiap klasifikasi diberikan skor misalnya 9 – 10; 7 – 8; 5 – 6; 3 – 4; dan 1 – 2 dari yang baik hingga ke yang kurang sekali.
o   Metode keseluruhan (whole method): yakni pemeriksaan secara nomor demi nomor bagi seluruh testi hingga diperoleh jawaban dari tingkat yang paling baik hingga ke yang paling buruk lalu dilakukan pemberian skor. Misalnya yang paling baik diberikan skor 10; baik diberikan skor 8; cukup diberikan skor 6; sedang diberikan skor 4; dan kurang diberikan skor 2 untuk setiap item tes.
o   Metode pembobotan (weight system): yakni dengan memberikan perbandingan bobot skor dari setiap item tes berdasarkan tingkat kesukaran (difficulty index) soal. Misalnya untuk soal mudah dengan bobot 2, sedang 3, sukar 4 dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh Sa (skor akhir) untuk siswa A dan siswa B yang mengikuti tes essay dengan 5 item tes berikut!
Keterangan:
No : nomor soal
TK : tingkat kesukaran soal
n : skor setiap soal
W : weight/bobot skor
n × W : skor kali bobot
Sa : skor akhir
Rumus Sa =
Dari contoh di atas, ternyata antara siswa A dan B dengan (n) yang sama yakni 35 ternyata (Sa) berbeda setelah dibobotkan yakni siswa A memperoleh skor 7,47 dan siswa B memperoleh skor 6,93.

3.      Penilaian dengan Non Tes

Teknik nontes merupakan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian. Selama ini teknik nontes kurang digunakan dibandingkan teknis tes. Dalam proses pembelajaran pada umumnya kegiatan penilaian mengutamakan teknik tes. Hal ini dikarenakan lebih berperannya aspek pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan guru pada saat menentukan pencapaian hasil belajar siswa.
Seiring dengan berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar maka teknik penilaian harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.
a.       kompetensi yang diukur;
b.      aspek yang akan diukur (pengetahuan, keterampilan atau sikap);
c.       kemampuan siswa yang akan diukur;
d.      sarana dan prasarana yang ada.

·         Jenis-jenis Teknik Non  Tes

3.      Pengamatan atau observasi
Pengamatan atau observasi sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati. Observasi untuk tujuan ini pencatatannya lebih sukar daripada mencatat jawaban yang diberikan peserta tes terhadap pertanyaan yang diberikan dalam suatu tes, karena respon observasi adalah tingkah laku yang prosesnya berlangsung cepat. Contoh observasi utuk tujuan evaluasi adalah observasi untuk menilai atau mengukur hasil belajar melalui pengamatan tingkah laku siswa pada saat guru mengajar.
·         Skala sikap
Skala sikap adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa sejumlah pernyataan sikap tentang sesuatu yang jawabannya dinyatakan secara berskala, misalnya skala tiga,empat atau lima.Pengembangan skala sikap dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a)      Menentukan objek sikap yang akan dikembangkan skalanya misalnya sikap terhadap kebersihan.
b)      Memilih dan membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang relevan dengan objek penilaian sikap. Misalnya : menarik, menyenangkan, mudah dipelajari dan sebagainya.
c)      Memilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala.
d)     Menentukan skala dan penskoran.

·         Penilaian Penugasan
Penilaian dengan penugasan adalah suatu teknik penilaian yang menuntut peserta didik melakukan kegiatan tertentu di luar kegiatan pembelajaran di kelas. Penilaian dengan penugasan dapat diberikan secara individual atau kelompok. Penilaian dengan penugasan dapat berupa tugas atau proyek.Tugas adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara terstruktur di luar kegiatan kelas, misalnya tugas membuat menggambar peta, mengidentifikasi pola aliran sungai, mengamati suatu obyek, dan lain-lain. Hasil pelaksanaan tugas ini bisa berupa hasil karya, seperti: makalah,  bisa pula berupa laporan,seperti: laporan pengamatan.Pelaksanaan pemberian tugas perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1.      Banyaknya tugas setiap mata pelajaran diusahakan agar tidak memberatkan siswa karena memerlukan waktu untuk istirahat, bermain, belajar mata pelajaran lain, bersosialisasi dengan teman, dan lingkungan sosial lainnya.
2.      Jenis dan materi pemberian tugas harus didasarkan kepada tujuan pemberian tugas yaitu untuk melatih siswa menerapkan atau menggunakan hasil pembelajarannya dan memperkaya wawasan pengetahuannya. Materi tugas dipilih yang esensial sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan hidup yang sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, perkembangan, dan lingkungannya.
3.      Diupayakan pemberian tugas dapat mengembangkan kreativitas dan rasa tanggung jawab serta kemandirian. Contoh : Penilaian skala sikap terhadap kebersihan.
4.      Tugas
Tugas adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara terstruktur di luar kegiatan kelas, seperti: laporan pengamatan.
Pelaksanaan pemberian tugas perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1)                  Banyaknya tugas setiap mata pelajaran diusahakan agar tidak memberatkan siswa karena memerlukan waktu untuk istirahat, bermain, belajar mata pelajaran lain, bersosialisasi dengan teman, dan lingkungan sosial lainnya.
2)                  Jenis dan materi pemberian tugas harus didasarkan kepada tujuan pemberian tugas yaitu untuk melatih siswa menerapkan atau menggunakan hasil pembelajarannya dan memperkaya wawasan pengetahuannya. Materi tugas dipilih yang esensial sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan hidup yang sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, perkembangan, dan lingkungannya.
3)                  Diupayakan pemberian tugas dapat mengembangkan kreativitas dan rasa tanggung jawab serta kemandirian.

·         Penilaian Kinerja

1. Beberapa Pengertian
Penilaian kinerja (Performance assessment) secara sederhana dapat dinyatakan sebagai penilaian terhadap kemampuan dan sikap siswa yang ditunjukkan melalui suatu perbuatan. Menurut para ahli penilaian kinerja merupakan penilaian terhadap perolehan, penerapan pengetahuan dan keterampilan yang menunjukkan kemampuan siswa dalam proses maupun produk. Penilaian tersebut mengacu pada standar tertentu. Terdapat istilah lainnya yang berkaitan dengan penilaian kinerja yaitu penilaian alternatif (alternative assessment) dan penilaian otentik (authentic assessment). menyatakan bahwa istilah penilaian otentik kadang-kadang digunakan untuk menjelaskan penilaian kinerja karena tugas-tugas asesmennya yang lebih dekat dengan kehidupan nyata. Istilah penilaian alternatif digunakan untuk penilaian kinerja karena merupakan alternatif untuk penilaian tradisional-paper and pencil test (tes tertulis obyektif).
Standar diperlukan dalam penilaian kinerja untuk mengidentifikasi secara  jelas apa yang seharusnya siswa ketahui dan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan. Standar tersebut dikenal dengan istilah rubrik. Rubrik dapat dinyatakan sebagai panduan pemberian skor yang menunjukkan sejumlah kriteria performance pada proses atau hasil yang diharapkan. Rubrik terdiri atas gradasi mutu kinerja siswa mulai dari kinerja yang paling buruk hingga kinerja yang paling baik disertai dengan skor untuk setiap gradasi mutu tersebut. Dengan mengacu pada rubrik inilah guru memberikan nilai terhadap kinerja siswa. Selain dari rubrik, penilaian kinerja terdiri atas komponen lainnya yaitu task (tugas-tugas). Task merupakan perangkat tugas yang menuntut siswa untuk menunjukkan suatu performance (kinerja) tertentu.

·         Tugas
Tugas adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara terstruktur di luar kegiatan kelas, misalnya tugas membuat cerita tentang matematikawan, menulis puisi matematika, mengamati suatu obyek, dan lain-lain. Hasil pelaksanaan tugas ini bias berupa hasil karya, seperti: karya puisi, cerita; bisa pula berupa laporan, seperti: laporan pengamatan.
Pelaksanaan pemberian tugas perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1)      Banyaknya tugas setiap mata pelajaran diusahakan agar tidak memberatkan siswa karena memerlukan waktu untuk istirahat, bermain, belajar mata pelajaran lain, bersosialisasi dengan teman, dan lingkungan sosial lainnya.
2)      Jenis dan materi pemberian tugas harus didasarkan kepada tujuan pemberian tugas yaitu untuk melatih siswa menerapkan atau menggunakan hasil pembelajarannya dan memperkaya wawasan pengetahuannya. Materi tugas dipilih yang esensial sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan hidup yang sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, perkembangan, dan lingkungannya.
3)      Diupayakan pemberian tugas dapat mengembangkan kreativitas dan rasa tanggung jawab serta kemandirian.

·         Beberapa contoh Penugasan Non Tes untuk Peserta didik

Selain dengan tes tertulis dapat pula penilaian dengan cara non tes yaitu untuk menilai diri peserta didik yang dilihat dari berbagai aspek.

Berikut adalah 6 tugas untuk penilaian diri peserta didik :
1.      Buatlah peta penggunaan lahan di daerahmu dengan pewarnaan yang sesuai disetiap penggunaan lahannya.
a.       Kerapian peta                                                  = 30
b.      Keindahan peta                                               = 40
c.       Kesesuaian warna dan penggunaan lahan       = 30
2.      Buatlah kliping tentang upaya pengembangan wilayah di Indonesia, dan buatlah analisis dari kliping tersebut.
Ketentuan Penilaian :
a.       Kerapian kliping                                  = 20
b.      Kelengkapan Data                              = 20
c.       Keseuaian dengan tema                      = 30
d.      Presentasi hasil kliping                        = 30
3.      Buatlah Lettering Nama-nama Negara di Benua Eropa.
Ketentuan Penilaian :
a.   Kelengkapan nama Negara                 = 10
b.   Keindahan pada peta                          = 20
c.   Ketepatan peletakan nama kota          = 30
d.   Kerapian pada peta                             = 40
4.      Lakukan pengamatan terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal Anda, kemudian isian table berikut ini.
Komponen Lingkungan yang diamati
Kualitas (baik/jelek)
Sumber Kebaikan
Sumber Kerusakan
1.      Lingkungan Fisik
a.       Perairan
b.      Udara
c.       Tanah
2.      Lingkungan Biologi
3.      Lingkungan social budaya




Ketentuan Penilaian :
a.       Ketelitian Pengamatan                        = 25
b.      Presentasi Hasil Pengamatan              = 35
c.       Kelengkapan Hasil Pengamatan         = 40
5.      Buatlah ringkasan dari buku panduan geografi kelas XII SMA yang di terbitkan oleh GRAFINDO karangan Ahmad Yani dan Mamat Ruhimat mengenai bab 6 tentang Pola Wilayah Negara Berkembang dan Negara Maju. Ditulis tangan dengan penulisan tegak bersambung.
Ketentuan Penulisan :
a.       Ketepatan materi yang diringkas        = 30
b.      Kelengkapan materi ringkasan            = 30
c.       Kerapian Penulisan                             = 40
6.      Carilah informasi dari media cetak atau elektronik tentang bencana Banjir di Indonesia. Kemudian buatlah laporannya dalam bentuk paper.
Ketentuan Penilaian :
a.       Kerapian penulisan pada laporan                    = 20
b.      Kelengkapan isi laporan                                  = 30    
c.       Ketepatan pada Klasifikasi negara                 = 50



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
o   Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya
o   Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.
o   Tes pilihan ganda merupakan tes yang menggunakan pengertian/ pernyataan yang belum lengkap dan untuk melengkapinya maka kita harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban benar yang telah disiapkan.
o   Soal pilihan ganda lebih efektif untuk mengukur beberapa hasil belajar sederhana daripada mengukur dengan soal jawaban singkat, soal betul salah, dan latihan menjodohkan
o   Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.
o   Tes isian terdiri dari kalimat yang dihilangkan (diberi titik-titik). Bagian yang dihilangkan ini yang diisi oleh peserta tes merupakan pengertian yang diminta agar pernyataan yang dibuat menjadi pernyataan yang benar.
o   Menurut Suherman (1993) tes essay adalah tes yang menuntut siswa untuk dapat menyusun dan memadukan gagasan-gagasan tentang hal-hal yang telah dipelajarinya, dengan cara mengekspresikan atau mengemukakan gagasan tersebut secara tertulis dengan kata-kata sendiri.
o   Teknik nontes merupakan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian. Selama ini teknik nontes kurang digunakan dibandingkan teknis tes.

B.     Saran
o   Berdasarkan Kelebihan dan Kelemahan yang ada pada setiap jenis Tes tertulis (pilihan ganda, isian singkat, uraian) maka guru diharapkan mampu berhati-hati dalam membuat soal tersebut, dan guru mampu menempatkan butir-butir soal di tempat-tempat yang tepat
o   Dalam soal Non Tes, seorang guru bisa memberikan berbagai macam tugas untuk peserta didik untuk dikerjakan di rumah. Tugas-tugas tersebut diharapkan diberikan oleh seorang guru sesuai dengan tingkat kesulitan dan kemudahannya.
o   Penilaian yang dilakukan dalam setiap Tes diharapkan dilakukan oleh seorang guru dengan cara seadil mungkin.




















DAFTAR PUSTAKA

Guilford, J.P. Fundamental Syatistics in psycology and education.dalam Prinsip  - prinsip Evaluasi Pengajaran.M.Ngalim Purwanto


http://disnawati.files.wordpress.com/2012/03/makalah-instrumen-penilaian-dengan-teknik-non-tes.pdf . (Diunduh tanggal 8 April 2012)


http://mueraja.blog.com/2011/06/05/teknik-penilaian-dan-prosedur-pengembangan-tes/html. (Diunduh tanggal 10 April 2012)

Nana, Sudjana.1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Yani, Ahmad.2007. Geografi SMA kelas XII. Bandung : Grafindo






0 comments:

Poskan Komentar

 

Blogroll

Blogroll2