Kamis, 07 Juli 2011

Contoh Proposal Penelitian Geografi


“PENGARUH PENGOLAHAN BATU KAPUR TERHADAP PENCEMARAN LINGKUNGAN DAN TINGKAT KESEHATAN MASYARAKAT DI DESA KARANGDAWA KECAMATAN MARGASARI KABUPATEN TEGAL”

 








Disusun oleh:
HENDY INDRA SETIAWAN
0901010088




PRODI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latarbelakang
Pembangunan yang berwawasan lingkungan telah diterima sebagai suatu prinsip Pembangunan Nasional dengan berbagai peraturan pelaksanaannya. Walaupun demikian, dalam prakteknya mekanisme yang ditetapkan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Isu tentang pencemaran sering dijumpai di media massa akibat dan dampak dari suatu kegiatan.
Dengan diberlakukannya Undang-undang nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, maka pengelolaan lingkungan hidup menjadi salah satu kewenangan yang diserahkan kepada pemerintah daerah, seperti yang terjadi di Kabupaten Tegal. Salah satu strategi dalam rangka mendorong peningkatan kemampuan daerah adalah penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan profesional di bidangnya untuk mencapai cita-cita pembangunan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam rangka mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan di Kabupaten Tegal diperlukan perencanaan yang terpadu, melibatkan semua dinas yang terkait dalam pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam. Salah satu sumber daya alam yang ada di Kabupaten Tegal memerlukan pengelolaan yang terpadu adalah batu gamping yang terletak di Desa Karangdawa Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal.
Pengolahan batu gamping/kapur (limestone) di Desa Karangdawa mempunyai dampak yang positif dan negatif kepada masyarakat dan lingkungannya. Di satu pihak akan memberikan keuntungan berupa memberikan lapangan pekerjaan, mempermudah komunikasi dan transportasi serta akhirnya meningkatkan ekonomi dan sosial masyarakat. Di pihak lain dapat timbul dampak negatif karena paparan zat-zat yang terjadi pada proses pengolahan batu kapur tersebut. Apabila tidak mendapatkan penanganan yang baik akan menimbulkan dampak negatif pada lingkungan. Salah satu dampak negatif dari kegiatan pengolahan batu kapur tersebut adalah menurunnya kualitas lingkungan yang ditandai adanya pencemaran udara.
Pengolahan batu kapur merupakan salah satu sumber pencemaran udara, dengan hasil yang ditimbulkan berupa gas seperti :  CO2, CO, dan partikel debu. Partikel debu batu kapur ini dapat mengganggu kesehatan bila terhirup manusia, antara lain dapat mengganggu pernafasan, seperti sesak nafas ataupun terjadinya pneumoconiosis. Dampak negatif yang paling dirasakan secara langsung adalah pencemaran udara dari cerobong asap tobong pembakar kapur. Bahan bakar yang digunakan untuk membakar kapur kebanyakan menggunakan blotong atau ersit, yaitu residu dari sisa-sisa proses pabrik kimia. Dampak ini langsung dirasakan ketika menghirup asapnya, berupa rasa perih di mata, sesak napas, dan bila bahan tersebut tersentuh kulit secara langsung, akan terasa terbakar.
Menurut hasil pemeriksaan kesehatan pekerja tambang batu kapur Desa Karangdawa tahun 2005 yang dilaksanakan Puskesmas Margasari penyakit ISPA menempati peringkat pertama sebanyak 46 orang (64 %).

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latarbelakang tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu sebagai berikut :
1.      Bagaimana pengaruh pengolahan batu kapur terhadap pencemaran lingkungan yang berdampak pada pekerja, pemilik dan penduduk di daerah penelitian?
2.      Bagaimana tingkat kesehatan warga masyarakat di sekitar daerah penelitian dengan adanya pengolahan batu kapur?

1.3 Tujuan
1.      Mengetahui pengaruh pengolahan batu kapur terhadap pencemaran lingkungan di daerah penelitian
2.      Mengetahui tingkat kesehatan warga masyarakat di sekitar daerah penelitian

1.4 Manfaat
1.      Dapat memberikan informasi mengenai pengaruh pengolahan batu kapur terhadap pencemaran lingkungan dan tingkat kesehatan di daerah penelitian.
2.      Dapat memberikan masukan kepada Pemerintah Kabupaten Tegal dan instansi terkait dalam upaya pengelolaan penambangan batu kapur untuk perencanaan dan pengambilan kebijakan.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.            Landasan Teori
Batu kapur adalah batuan sedimen berjenis khusus yang terbentuk dari kerangka hewan-hewan kecil lautan. Batu kapur (gamping) dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organik, secara mekanik, atau secara kimia. Sebagian besar batu kapur yang terdapat di alam terjadi secara organik, jenis ini berasal dari pengendapan cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau ganggang, atau berasal dari kerangka binatang koral/kerang. Batu kapur dapat berwarna putih susu, abu muda, abu tua, coklat bahkan hitam, tergantung keberadaan mineral pengotornya.
Mineral karbonat yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur adalah aragonit (CaCO3), yang merupakan mineral metastable karena pada kurun waktu tertentu dapat berubah menjadi kalsit (CaCO3). Mineral lainnya yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur atau dolomit, tetapi dalam jumlah kecil adalah Siderit (FeCO3), ankarerit (Ca2MgFe(CO3)4), dan magnesit (MgCO3).
Penggunaan batu kapur sudah beragam diantaranya untuk bahan kaptan, bahan campuran bangunan, industri karet dan ban, kertas, dan lain-lain. Batuan kapur ini sangat penting artinya sebagai bahan dasar dalam industri.
Batuan kapur mempunyai sifat yang istimewa, bila dipanasi akan berubah menjadi kapur yaitu kalsium oksida (CaO) dengan terjadi proses dekarbonisasi (pelepasan gas CO2). Dalam perdagangan dapat dijumpai bermacam-macam hasil pembakaran kapur ini antara lain:
2.1.1. Kapur tohor atau Quick lime
Yaitu hasil langsung dari pembakaran batuan kapur yang berbentuk oksida-oksida dari kalsium atau magnesium
2.1.2 Kapur padam atau kapur mati (hydrated lime/slake lime) atau kapur sirih
Adalah bentuk-bentuk oksida dari magnesium atau kalsium yang dibuat dari kapur keras yang diberi air sehingga berreaksi dan mengeluarkan panas. Bahan ini biasanya digunakan juga dalam adonan untuk pemasangan bata bangunan
2.1.3. Kapur hydraulik
Di sini CaO dan MgO tergabung secara kimia dengan pengotoranpengotoran. Oksida-oksida kapur ini terhydrasi secara mudah dengan menambahkan air ataupun membiarkannya diudara terbuka, pada reaksi ini akan timbul panas. Kapur hydraulik yang dijual sebagai kapur hydrat mengandung beberapa kotoran (impurities) yang terdiri dari silika, allumina, oksida besi dan lainnya sehingga kapur hydraulik murni mungkin hanya mengandung 10-35% kapur bebas.

2.2. Proses Pengolahan Batu Kapur
Sebelum kapur mati (kalsium karbonat) menjadi kalsium oksida (kapur hidup), terlebih dahulu diawali dengan proses pengolahan batu kapur. Proses pengolahan batu kapur terdiri dari beberapa tahap yaitu :
2.2.1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini merupakan tahap awal sebelum batu kapur dibakar. Tahap persiapan ini meliputi :
a.Kegiatan Pengadaan batu kapur
Kegiatan pengadaan batu kapur merupakan kegiatan penambangan batu kapur di pegunungan kapur dengan menggunakan bahan peledak dan peralatan penambangan lainnya. Pemilik lahan penambangan batu kapur oleh masyarakat disebut animer , sedangkan orang yang memiliki tungku pembakaran batu kapur disebut penobong. Penobong mendapatkan batu kapur (bahan mentah) langsung dari animer melalui koperasi Sentra Kapur.
b. Kegiatan Pengangkutan dan penimbunan batu kapur
Kegiatan pengangkutan batu kapur merupakan kegiatan untuk mengangkut batu kapur dari area penambangan kelokasi pembakaran. Pengangkutan batu gamping menggunakan truk tua dengan kapasitas angkut 3 ton.
Kegiatan penimbunan merupakan kegiatan menimbun atau menempatkan sementara batu gampin di sekitar lokasi pembakaran batu kapur sebelum dimasukkan kedalam tobong/tungku pembakar. Setelah diturunkan dari truk maka batu kapur ditumpuk di dekat tangga menuju lobang pembakaran.
2.2.2. Tahap Pembakaran
Tahap pembakaran merupakan tahapan dimana batuan kapur dibakar sampai menjadi kapur, kegiatan pembakaran ini diawali dengan kegiatan menyusun batu kapur kedalam tungku pembakaran (tobong). Tungku pembakaran yang digunakan terdiri dari dua jenis yaitu Tungku berbahan bakar minyak dengan pekerja di bagian pembakaran sebanya 6 orang, dan tungku dengan bahan bakar campuran kayu, oil suldge dan sebagainya, dengan jumlah pekerja 4 orang tiap tungku. Tenaga kerja ini bekerja selama 24 jam yang terbagi dalam 2 shift kerja. Tungku dengan bahan bakar minyak memerlukan waktu 5 jam untuk membakar batu menjadi kapur, sedangkan tungku dengan bahan bakar campuran memerlukan waktu 15 hari untuk membakar batu kapur.
Pada kapur yang diperdagangkan kemurnian kapur keras berkisar antara 88-94% dan jumlah oksidanya (CaO dan MgO) sekitar 92-98%. Pembakaran batu kapur di Desa Karangdawa menghasilkan kalsium oksida (CaO) dalam bentuk padat (bongkahan) maupun bubuk (powder) yang siap untuk dijual. Bentuk dari kalsium oksida tersebut tergantung dari permintaan pasar.
2.2.3. Tahap Pemasaran
Tahap pemasaran merupakan tahap kapur sudah dibakar dan siap untuk dijual. Tahap ini meliputi :
a.Kegiatan penimbunan kapur
Kegiatan ini merupakan kegiatan mengambil dan menata kapur yang sudah matang dari dalam tungku pembakar dan ditata disekitar lokasi pembakaran atau langsung di angkut dengan truk untuk dipasarkan.
b. Kegiatan Penjualan kapur
Merupakan kegiatan untuk menjual atau memasarkan kapur baik melalui perorangan maupun melalui koperasi. Kapur tersebut diangkut dengan truk keluar daerah atau perusahaan tergantung permintaan pasar.

2.3. Pengertian Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah bertambahnya bahan atau substrat fisik atau kimia kedalam lingkungan udara normal yang mencapai sejumlah tertentu, sehingga dapat dideteksi oleh manusia (atau yang dapat dihitung dan diukur) serta dapat memberikan efek pada manusia, binatang, vegetasi, dan material. Selain itu pencemaran udara dapat pula dikatakan sebagai perubahan atmosfer oleh karena masuknya bahan kontaminan alami atau buatan ke dalam atmosfer tersebut.
Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lngkungan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfingsi lagi sesuai dengan peruntukannya (UU Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).
Pencemaran dapat timbul sebagai akibat kegiatan manusia ataupun disebabkan oleh alam (misal gunung meletus, gas beracun). Ilmu lingkungan biasanya membahas pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas manusia, yang dapat dicegah dan dikendalikan.
Karena kegiatan manusia, pencermaran lingkungan pasti terjadi. Pencemaran lingkungan tersebut tidak dapat dihindari. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi pencemaran, mengendalikan pencemaran, dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya agar tidak mencemari lingkngan.
Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran di sebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makluk hidup. Contohnya, karbon dioksida dengan kadar 0,033% di udara berfaedah bagi tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat memberikan efek merusak.
Suatu zat dapat disebut polutan apabila :
1. Jumlahnya melebihi jumlah normal.
2. Berada pada waktu yang tidak tepat.
3. Berada di tempat yang tidak tepat.
Sifat polutan adalah :
1. Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat lingkungan tidak merusak lagi.
2. Merusak dalam waktu lama.
Contohnya Pb tidak merusak bila konsentrasinya rendah. Akan tetapi dalam jangka waktu yang lama, Pb dapat terakumulasi dalam tubuh sampai tingkat yang merusak.
Asal pencemaran udara dapat diterangkan dengan 3 (tiga) proses yaitu atrisi (attrition), penguapan (vaporization) dan pembakaran (combustion). Dari ketiga proses tersebut di atas, pembakaran merupakan proses yang sangat dominan dalam kemampuannya menimbulkan bahan polutan.

2.4. Klasifikasi Bahan Pencemar Udara
Bahan pencemar udara atau polutan dibagi menjadi dua bagian :
2.4.1. Polutan Primer
Polutan primer adalah polutan yang dikeluarkan langsung dari sumber tertentu dan dapat berupa :
a. Gas, terdiri dari :
-          Senyawa karbon, yaitu hidrokarbon, hidrokarbon teroksigenasi dan karbon oksida (CO atau CO2)
-          Senyawa sulfur, yaitu sulfur oksida
-          Senyawa nitrogen, yaitu nitrogen oksida dan amoniak
-          Senyawa halogen, yaitu fluor, klorin, hidrogen klorida, hidrokarbon terklorinasi dan bromin.
b. Partikel
Partikel dalam atmosfer mempunyai karakteristik spesifik, dapat berupa zat padat pun suspensi aerosol cair. Bahan partikel tersebut dapat berasal dari proses kondensasi, proses dispersi misalnya proses menyemprot (spraying), maupun proses erosi bahan tertentu.
Asap (smoke) seringkali dipakai untuk menunjukkan campuran bahan partikulat (particulate matter), uap (fumes), gas dan kabut (mist). Adapun yang dimaksud dengan :
-          asap adalah partikel karbon yang sangat halus (sering disebut sebagai jelaga) dan merupakan hasil dari pembakaran yang tidak sempurna
-          Debu adalah partikel padat yang dapat dihasilkan oleh manusia atau alam dan merupakan hasil dari proses pemecahan suatu bahan.
-          Uap adalah partikel bentuk gas yang merupakan hasil dari proses sublimasi, distilasi atau reaksi kimia
-          Kabut adalah partikel cair dari reaksi kimia dan kondensasi uap air.
2.4.2. Polutan Sekunder
Polutan sekunder biasanya terjadi karena reaksi dri dua atau lebih bahan kimia dari udara, misalnya reaksi fotokimia. Sebagai contoh adalah disosiasi NO2 yang menghasilkan N dan O radikal. Proses kecepatan dan arah reaksinya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
-          Konsentrasi relatif dari bahan reaktan
-          Derajat fotoaktivasi
-          Kondisi iklim
-          Topografi lokal dan adanya embun
Polutan sekunder ini mempunyai sifat fisik dan sifat kimia yang tidak stabil. Termasuk dalam polutan sekunder ini adalah ozon, Peroxy Acyl Nitrat (PAN) dan Formaldehid.

2.5. Pencemaran Debu Pada Pengolahan Batu Kapur
Debu adalah partikel-partikel zat padat yang disebabkan oleh kekuatankekuatan alami atau mekanis seperti pengolahan, penghancuran, pelembutan,pengepakan yang cepat, peledakan dan lain-lain dari bahan-bahan baik organik maupun anorganik, misalnya batu, kayu, arang batu, bijih logam dan sebagainya.

2.5.1. Macam-macam debu
Secara garis besar debu dapat dibagi atas 3 macam yaitu :
a.       Debu organik
Yaitu seperti debu kapur, debu daun-daunan dan sebagainya.
b.      Debu mineral
Merupakan senyawa komplek seperti arang batu, SiO2, SiO3 dan sebagainya.
c.       Debu metal
Seperti timah hitam, arsen, Kadmium dan sebagainya.
2.5.2. Komposisi kimia debu
Ada tiga golongan komposisi kimia debu yang ditinjau berdasarkan sifatnya :
a. Inert dust
Golongan debu ini tidak menyebabkan kerusakan atau reaksi fibrosis pada paru-paru. Efeknya sangat sedikit sekali pada penghirupan normal. Reaksi jaringan pada paru-paru terhadap jenis debu ini adalah :
- Susunan saluran nafas tetap utuh
- Tidak terbentuk jaringan parut ( fibrosis ) di paru-paru
- Reaksi jaringan potensial dapat pulih kembali dan tak menyebabkan gangguan paru – paru.
b. Profilferative dust
Golongan debu ini di dalam paru-paru akan membentuk jaringan parut ( fibrosis ). Fibrosis ini akan membuat pengerasan pada jaringan alveoli sehingga mengganggu fungsi paru. Contoh debu ini yaitu debu silika, kapur, asbes dan sebagainya.
c. Debu asam atau basa kuat
Golongan debu yang tidak ditahan dalam paru namun dapat menimbulkan efek iritasi. Efek yang ditimbulkan bisa efek keracunan secara umum misalnya debu arsen dan efek alergi, khususnya golongan debu organik.
2.5.3. Ukuran partikel debu
Debu merupakan partikel padat yang mempunyai ukuran diameter 0,1 - 50 mikron atau lebih. Partikel debu yang dapat dilihat oleh mata adalah yang berukuran lebih dari 50 mikron. Sedang yang berukuran kurang dari 50 mikron hanya bisa dideteksi oleh mata biasa apabila terdapat pantulan cahaya yang kuat dari partikel debu tersebut. Untuk bisa melihat partikel debu yang berukuran kurang dari 10 mikron maka harus menggunakan suatu alat bantu seperti mikroskop.

2.6. Jalan udara Pernafasan ke Paru-paru
Bahaya dari partikel debu dalam udara adalah interaksinya dengan jaringan paru. Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru yaitu:
a.       Hidung
b.      Rongga hidung
c.       Faring ( tekak )
d.      Laring ( pangkal tenggorok )
e.       Trakea ( batang tenggorok )
f.       Bronkus ( cabang-cabang tenggorok )
g.      Bronkiolus terminalis
h.      Alveoli ( gelembung paru-paru )
Adapun proses pernafasan adalah darah mengeluarkan karbondioksida yang dibawa oleh haemoglobine sebagai karbondioksida haemoglobine, karbondioksida dilepaskan ke dalam gelembung paru-paru menjadi haemoglobine (proses ekspirasi). Dan haemoglobine ini menangkap oksihaemoglobine (proses inspirasi).

2.7. Pengaruh Debu Terhadap Kesehatan
Debu di dalam udara yang kadarnya melampaui batas, dapat menyebabkan sebagai berikut :
2.7.1. Keracunan lokal
a.       Debu penyebab fibrosis
Yaitu karena sifatnya yang tidak larut, masuk ke dalam nafas bersama - sama udara pernafasan, diendapkan diparu-paru dan menyebabkan pengerasan jaringan. Contoh kristal silika bebas, kapur dan asbes.
b.      Debu inert
Yaitu debu yang tidak berbahaya tetapi dapat mengganggu kenyamanan kerja. Contoh tanah.
c.       Debu alergen
Yaitu debu penyebab alergi. Contoh debu organic
d.      Debu iritan
Yaitu debu yang dapat mengakibatkan luka secara lokal. Contoh flour.
2.7.2. Infeksi saluran pernafasan atas
Yaitu suatu penyakit yang erat kaitannya dengan pencemaran yang diakibatkan oleh debu kapur, contohnya infuensa. Partikel debu selain memiliki dampak terhadap kesehatan juga dapat menyebabkan gangguan sebagai berikut:
a.       Gangguan aestetik dan fisik seperti terganggunya pemandangan dan pelunturan warna bangunan dan pengotoran
b.      Merusak kehidupan tumbuhan yang terjadi akibat adanya penutupan pori pori tumbuhan sehingga mengganggu jalannya photo sintesis
c.       Merubah iklim global regional maupun internasional
d.      Menganggu perhubungan/ penerbangan yang akhirnya menganggu kegiatan sosial ekonomi di msyarakat
e.       Menganggu kesehatan manusia seperti timbulnya iritasi pada mata, alergi, gangguan pernafasan dan kanker pada paru-paru.
Efek debu terhadap kesehatan sangat tergantung pada: Solubity (mudah larut), Komposisi Kimia, Konsentrasi Debu, dan Ukuran partikel debu.

2.8. Hipotesis

1.      76 % daerah sekitar pengolahan batu kapur tercemar lingkungannya
2.      49 % warga karangdawa kapasitas fungsi parunya ( pernapasan ) tidak normal





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode
Tipe penelitian ini adalah penelitian penjelasan (explanatory research), yaitu untuk menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis. Penelitian ini bersifat kuantitatif disajikan data pengukuran univariat secara deskriptif dimana akan dihitung frekuensi, korelasi melalui chisquare dan memperbandingkan data dengan analisis diskriminan.
Metode dalam penelitian ini adalah metode epidemiologi dengan pendekatan Cross Sectional, karena variabel sebab dan akibat yang terjadi pada obyek penelitian diukur atau dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan dan dilakukan pada situasi saat ini

3.2. Waktu dan Tempat
Waktu             : Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli 2011.
Tempat            : Adapun tempat pelaksanaan penelitian yaitu di desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal.

3.3. Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu :
a. Alat tulis
b. Komputer
c. Kuisioner

3.4. Variabel Penelitian
a. Variabel Bebas
Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah partikel debu kapur.
b. Variabel terikat
Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah penurunan fungsi paru.
c. Variabel pengganggu
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel pengganggu adalah umur dan jenis kelamin, status gizi, olahraga, peng-gunaan masker dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

3.5. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah masyarakat di desa Karangdawa Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal yang terbagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu :
a.       Kelompok pekerja : orang yang bekerja di tungku pembakar sebanyak 527 orang yang tersebar di 76 buah tungku pembakar yang ada
b.      Kelompok pemilik : orang yang memiliki tungku pembakar sebanyak 76 orang.
c.       Kelompok penduduk yang bertempat tinggal dekat dengan lokasi tungku pembakar (jarak antara 50 m s/d 100 m) sebanyak 60 KK
Jadi total jumlah populasi yang ada sebanyak 527 orang pekerja + 76 orang pemilik tungku pembakaran + 60 penduduk sekitar pembakaran batu kapur = 663 orang.
Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Purposive sampling atau disebut juga sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.21 Dengan kata lain, sampel penelitian ini ditentukan oleh peneliti menurut pertimbangan kriteria tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk mendapatkan sampel yang eligible atau yang memenuhi syarat penelitian maka diterapkan kriteria inklusi dan eksklusi. Yang menjadi kriteria inklusi sampel yang diambil adalah sebagai berikut :
a. Jenis kelamin : Laki-laki
b. Umur : 18 – 45 tahun (usia produktif)
c. Status Gizi : Gizi baik
d. Status kesehatan : - Tidak mempunyai riwayat penyakit paru
          - Tidak sedang menderita ISPA

3.6. Teknik Pengumpulan Data
Alat ukur yang digunakan dalam hal ini adalah daftar kuesioner (formulir isian) dan data dokumen (laporan pengukuran kapasitas fungsi paru di desa Karangdawa dari dinas kesehatan, laporan pengelolaan lingkungan dari DLHKP, Laporan Pengolahan Batu Kapur dari Koperasi Batu Kapur, Profil Kesehatan Puskesmas Margasari, Data Umum Desa Karangdawa dari Pemerintah Desa Karangdawa dll). Pengumpulan data
dalam penelitian ini diperoleh dari 2 (dua) sumber data sebagai berikut :
3.6.1. Data primer
Adalah data yang didapat langsung dari lapangan dengan menggunakan kuesioner serta melalui pengukuran terhadap responden.
Adapun hasil data yang diambil adalah sebagai berikut :

3.6.2. Hasil kuesioner
Yaitu biodata, riwayat kesehatan seperti sesak nafas, sakit dada, batuk–batuk serta penggunaan APD (masker/ penutup hidung), keterlibatan dalam pengolahan batu kapur.
3.6.3. Pengukuran kadar partikel debu
Pengukuran kadar debu menggunakan alat Low Volume Air Sampler merk Sibata. Pengukuran dilakukan oleh peneliti bersama bersama tim Laboratorium Kesehatan Lingkungan Kabupaten Tegal. Prinsipnya adalah partikel debu ditangkap dengan filter fiber glass yang sudah diketahui beratnya serta volume udara yang dipompa dengan alat Low volume Air Sampler. Kemudian filter setelah dipompa ditimbang lagi, selisih beratnya dapat dihitung sebagai konsentrasi partikel debu.
3.6.4. Data sekunder
Data sekunder diperoleh melalui dokumen-dokumen yang ada di Balai Desa Karangdawa, koperasi batu kapur, Puskesmas Margasari, Dinas Kesehatan dan DLHKP Kabupaten Tegal.

3.7. Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan dilakukan pengolahan data.Tahap pengolahan data sebagai berikut :
3.7.1. Editing
Langkah ini dimaksudkan untuk melakukan pengecekan kelengkapan data, kesinambungan data dan keseragaman data
3.7.2. Koding
Setelah dilakukan editing, langkah selanjutnya adalah melakukan pengkodean data untuk memudahkan pengolahannya.
3.7.3. Entry Data
Memasukkan data yang telah dilakukan koding ke dalam Variable Sheet SPSS version 11.
3.7.4. Tabulasi
Merupakan langkah untuk mengelompokkan data ke dalam suatu data tertentu menurut sifat-sifat yang dimiliki.



3.8. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan Software Program SPSS version 11.25 Data yang diperoleh dari pengukuran dan hasil kuesioner diolah, diklasifikasikan dan disusun dalam bentuk narasi berdasarkan tabel. Adapun teknik analisanya yaitu sebagai berikut :
3.8.1. Analisis Univariate
Analisa univariate merupakan penyajian yang hanya mempersoalkan satu variabel yang dalam penyajiannya berbentuk tabel distribusi frekuensi. Analisa ini dilakukan pada keseluruhan variabel penelitian.
3.8.2. Analisis Bivariate
Analisis bivariate dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, karena variabel penelitian ini terkait dengan skala pengukuran data nominal/ordinal maka digunakan uji Chi-Square. Uji Chi-Square adalah teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis bila dalam populasi/sampel terdiri atas dua atau lebih klas, data berbentuk nominal dan sampelnya besar. Untuk menguji signifikansi dilakukan dengan menguji harga Chi Square hitung yang didapat dengan harga Chi Square tabel, pada taraf kesalahan dan dk tertentu. Ho ditolak bila harga Chi Square hitung > Chi Square tabel atau bila p value < 0,05 pada taraf kepercayaan 95%.
3.8.3. Analisa multivariat
Dilakukan dengan menggunakan uji statistik analisis diskriminan (Discriminant Analysis). Analisis diskriminan merupakan bentuk regresi dengan variabel terikat berbentuk non metrik atau kategori.26 Uji analisis diskriminan (Discriminant Analysis) adalah teknik multivariat yang variabel dependennya menggunakan data katagorikal. Tujuan analisis diskriminan adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang jelas antar grup pada variabel dependen (penurunan kapasitas fungsi paru). Jika ada perbedaan, variabel independen manakah yang membuat perbedaan tersebut (letak tobong dan status responden). Sedangkan tujuan yang kedua adalah membuat fungsi atau model diskriminan yang pada dasarnya mirip dengan persamaan regresi.







DAFTAR PUSTAKA

Sucipto, Edy, 2007, Hubungan Pemaparan Partikel Debu Pada Pengolahan Batu Kapur Terhadap Penurunan Kapasitas Fungsi Paru, Laporan Penelitian

Samekto, Adji, 2005, Kapitalisme, Modernisasi dan Kerusakan Lingkungan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Kantor Pedalda kabupaten tegal, 2005, Kajian Dampak Pengolahan Batu Kapur Terhadap Lingkungan, Tegal

Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2005, Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2004, Tegal

Mukono, H.J, 1997, Pencemaran Udara dan Pengaruhnya terhadap Gangguan Saluran Pernafasan, Airlangga University Press, Surabaya

8 comments:

  1. maaf mas hendy, saya mau meminta bantuannya terkait dengan penelitian ini. Kebetulan saya sekarang bertempat di karangdawa dan mendapati banyak anak2 terserang asma dan orang dewasa yang terkena kanker, kemungkinan karena efek samping pengolahan limbah yang tidak benar (digunakan sebagai bahan bakar gamping). kalo bisa saya minta no. telfonnya biar saya dapat membaca lebih lanjut hasil penelitian ini. terimakasih. mohon konfirmasi segera.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mohon maaf dr.reni, kebetulan hasil dari penelitian ini belum diketahui, karna proposal ini hanya sebagian dari tugas mata kuliah yang saya jalani.
      saya tahu daerah karangdawa karna kebetulan bertempat tidak jauh dari sana, jadi mohon maaf untuk hasil penelitiannya belum diketahui karna saya tidak melanjutkan penelitian ini lebih jauh, trimakasih..

      Hapus
  2. makasih bro contoh proposal penelitian.x sangat membantu

    BalasHapus
  3. sama-sama gan, trimakasih sudah mampir :)

    BalasHapus
  4. lumayaaan...hehe saya juga sama2 dari UMP lho mas.. geografi juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. ANAK 2010... Ternyata dirimu tho yg muncul...??? aku ikut ngopy ya mas.. bwt tugas MPG...
      THANKS

      Hapus
  5. iyaa sama2, terimakasih, semoga bermanfaat..

    BalasHapus

 

Blogroll

Blogroll2